HISTORIS KA’BAH

M Darowi

Ka’bah adalah Rumah Allah, dan Kiblat Umat Islam, Allah menjadikannya sebagai mercusuar tauhid, dan simbol ibadah, Allah Maha Kuasa mengatakan:

جعل الله الكعبة البيت الحرام قياما للناس ( المائدة97)

Allah telah menjadikan Ka’bah Baitullah, sebagai tempat
ibadah bagi manusia (Surat Al Maidah 97),

Yang kita sembah bukan Ka’bah, tetapi Allah pemilik Ka’bah, dan pemilik seluruh mahluk ciptaan-Nya Allah berfirman:

فَلْيَعْبُدُوْا رَبَّ هَٰذَا الْبَيْتِ (القريش 3)

Maka sembahlah Tuhan pemilik rumah ini. (QS Al Quraisy :3).

Ka’bah adalah rumah pertama yang didirikan untuk manusia dengan maksud untuk menyembah Allah SWT, Firman-Nya :

إن أول بيت وضع للناس للذي ببكة مباركا وهدى للعالمين ( آل عمران96)

sesungguhnya rumah pertama yang ditetapkan untuk manusia adalah yang ada di Mekah yang diberkahi dan petunjuk bagi seisi dunia (Al-Imran 96).

Sejarah panjang Ka’bah yang dihormati, melewati beberapa tahap, dimulai pada era Nabi Ibrahim dan putranya Ismail – as – ketika diperintahkan oleh Allah SWT agar beliau tinggal di Mekah bersama keluarganya, dimana kondisi Mekah pada waktu itu tandus dan gersang.

Setelah tinggal di Mekah dan Ismail – saw –telah baligh (dewasa) maka Allah memerintahkan mereka untuk membangun Ka’bah, dan menegakkan aturan, Allah SWT berfirman:

وإذ يرفع إبراهيم القواعد من البيت وإسماعيل ربنا تقبل منا ( البقرة127)

Dan ingatlah ketika Ibrahim dan mengankat aturan Baitullah, Wahai Tuhan kami terimalah dari kami (al-Baqarah 127),

kemudian Ismail – saw – datang dengan membawa batu dan Ibrahim yang membangunnya , sedikit demi sedikit bangunan itu semakin tinggi, sampai tidak terjangkau tangan, kemudian datang Ismail – saw – menata batu untuk pijakan ayahnya dan menyelesaikan pekerjaannya, dan terus melakukannya dan mereka berkata: “(Ya Tuhan kami, terimalah dari kami, Engkau adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui) (Baqarah: 127) hingga konstruksi dan selesai.

Kemudian menetaplah beberapa suku Arab di Mekah dari suku “Amalik” dan “Jurhum” dan Ka’bah mengalami renovasi karena retak lebih dari sekali disebabkan banyaknya banjir dan faktor-faktor yang mempengaruhi konstruksi, dan dari anggota 2 suku ini yang melakukan renovasi dan menjaganya.

Dan berlalulah tahun , sehingga suku Quraisy memperbaiki Ka’bah, yaitu 5 tahun sebelum Nabi saw diutus, dan pembangunan Ka’bah pada saat itu batu ditempatkan di atas batu lainnya tanpa tanah liat, saat terjadi banjir yang melanda Mekkah sejak saat itu dan selanjutnya mempengaruhi kekuatan struktur Ka’bah yang didirikan, dan membelah di dindingnya , sampai hampir runtuh, karena itu Quraisy memutuskan untuk membangun Ka’bah dengan bangunan yang kokoh meskipun terjadi banjir, dan ketika mereka berkumpul bermusyawarah dengan suara bulat, Abu Wahab bin Amr berkata: “Wahai Kaum Quraisy, janganlah kalian membangunan Ka’bah ini kecuali hanya dengan harta yang baik jangan dibiayai dengan harta yang melanggar hukum, atau harta riba, dan jangan teraniaya seorangpun” tetapi Quraisy tetap kuatir merobohkan Ka’bah, karena takut terkena murka Allah, maka Walid bin Mughirah berkata kepada mereka : – Saya yang memulai pembongkaran ini, kemudia ia mengambil alatnya dan mulai pembongkaran, sambil berdoa: “Ya Allah kami tidak ragu, dan tidak akan bertambah kecuali yang baik, maka ia mulai menghancurkan pilar-pilar di satu sisi, dan pada malam itu orang-orang memperhatikan apakah ia terkena bala’ disebabkan karena apa yang dilakukannya? Ketika mereka melihat bahwa Mughirah baik- baik saja, maka pergilah orang orang untuk menyelesaikan penghancuran Ka’bah, hingga tidak menyisakan sedikitpun kecuali pondasi Ibrahim – saw -.

Kemudian diikuti dengan tahap konstruksi, dimana pekerjaan itu dilaksanakan gotong royong diantara suku-suku, dan mereka mengambil salah satu bagian dari Ka’bah, dan mereka menganggap mereka membangun dengan batu dari lembah, dan ketika ia sampai pada penempatan Hajar Aswad terjadilah pertikaian di antara suku Quraisy, semua ingin menang untuk mendapat kehormatan mengangkat batu itu ke posisinya, dan hampir terjadi peperangan di antara mereka, hingga datang Abu Umayyah bin Mughirah Al Makhzumi yang memberi saran kepada mereka untuk member jalan keluar atas perbedaan yang terjadi, dengan meyerahkan kepada orang yang pertama memasuki pintu Masjidil Haram, ternyata mereka sepakat dengan jalan itu, dan merekapun menunggu orang pertama yang datang, dan mereka melihat Rasulullah – saw – dan setelah mereka lihat bahkan dengan berteriak: “inilah Al Amin (orang yang dipercaya), kita telah puas, ini adalah Muhammad,” dan mereka belum selesai hingga datang riwayat bahwa beliau berkata: (bawakanlah kain kepadaku) maka kain itu beliau gelar dan Hajar Aswad beliau letakkan di tengah kain, lalu berkata: (wahai wakil suku peganglah pinggir kain ini kemudian angkatlah bersama-sama ke posisinya) maka mereka melakukannya, ketika mereka mencapai tempatnya beliau julurkan dengan tangannya dan meletakkannya di tempatnya.
Quraisy sudah lama ingin membangun Ka’bah dari uang halal, dan uang telah dikumpulkan untuk hal ini tetapi tetap gagal, kecuali dengan mengurangi pengeluaran belanja mereka untuk menyelesaikan pembangunan Ka’bah dengan harta yang halal lagi bersih, dan demikian pula saat mengeluarkan Hajar Aswad (Al Hathim)dari bangunan dan ketika menempatkannya sebagai tanda bahwa itu adalah Ka’bah, Hal ini terbukti dalam hadits Rasulullah – saw – ketiak beliau bersabda kepada Aisyah – ra:

ألم تري أن قومك قصرت بهم النفقة ؟ ولولا حدثان قومك بكفر لنقضت الكعبة ، وجعلت لها بابا شرقيا وبابا غربيا ، وأدخلت فيها الحجر

Apakah kamu tidak melihat ketika kaum-mu mengurangi pengeluaran uang? Andaikan tanpa peristiwa dari kaum-mu dengan Kekafirannya sungguh Ka’bah saya bangun, dan aku buat 2 pintu masuk di sebelah timur dan barat, dan aku masukkan Hajar Aswad di dalamnya.

Dan pada masa Ibnu al-Zubair – ra – dia memutuskan untuk membangun Ka’bah kembali sebagaimana yang diinginkan Rasulullah – saw – semasa hidupnya, jadi ia dihancurkan dan dibangun kembali, dan dikurangi belanja Quraisy – dan dibangun sekitar enam lengan -, dan ditingkatkan ketinggian Ka’bah hingga sepuluh hasta, kemudian dibuat dua pintu, satu di sebelah timur dan yang lain di barat, orang dapat masuk dari pintu yang satu dan keluar melalui pintu yang lain, dan Ka’bah dibuat dengan sangat baik dan megah, sebagaimana deskripsi dari Nabi saw yang diriwayatkan oleh bibinya yaitu Aisyah Ummul Mukminin -rha -.

Selama masa pemerintahan Abdul Malik bin Marwan, Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi menulis surat yang berisi perubahan Ka’bah oleh Ibn al-Zubair, dan terjadinya penambahan dalam pembangunan Ka’bah yang berlebih, ia berpikir berdasar pendapat dan ijtihadnya (tidak tahu pesan Nabi), karena itu Abdul Malik berusaha untuk mengembalikan seperti keadaan sebelumnya, maka Al Hujjad melakukan pembongkaran dinding utara dan mengeluarkan Al Hajar (batu) seperti apa yang dibangun oleh Quraisy, dan menjadikan pintu Ka’bah hanya satu dengan menambah ketinggiannya, dan menutup pintu yang lain, kemudian ketika Abdul Malik bin Marwan wawancara dengan Aisyah – rha maka Abdu Malik menyesali apa yang ia lakukan dan ingin mengembalikan sesuai apa yang telah dibangun oleh Ibnu Zubair, maka Imam Malik memberinya nasehat untuk mencegahnya karena kuatir akan mengurangi kehormatan Ka’bah, dan setiap datang raja akan merobohkan apa yang dilakukan pendahulunya, dan mencacat kesucian Al Bait.

Bangunan terakhir dari Ka’bah itu pada periode Utsmani 1040 Hijrah, ketika Mekah terjadi banjir yang menggenangi Masjidilharam, sampai mencapai ketinggian lampu yang tergantung , hingga menyebabkan lemahannya bangunan Ka’bah, kemudian ia memerintahkan Muhammad Ali Pasha – ke Mesir – untuk mendatangkan para insinyur ahli dan pekerja guna menghancurkan Ka’bah, dan membangun kembali, pembangunan berlangsung selama setengah tahun, dengan biaya yang banyak, sampai berakhirnya pekerjaan. Ka’bah tetap merupakan kebanggaan dan tambatan hati umat beriman, dan akan tetap demikian sampai datangnya ketentuan Allah pada akhir zaman dimana akan hancur Ka’bah itu di tangan orang Ethiopia dan mengeluarkan harta Ka’bah dari dalamnya . Dan dalam kalimat, maka sungguh Ka’bah itu memiliki sejarah panjang penuh peristiwa dan pelajaran yang harus kita mengerti, dan kita ambil manfaat darinya.

Source: Islam Web- Arabic.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s