KEKUATAN HAQ DAN BATHIL

DUNIA BELADIRI
Dan Katakanlah: “Yang benar Telah datang dan yang batil Telah ‎lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti ‎lenyap. (QS:17 Al Isra 81)‎
Ayat ini turun di Mekkah menjelang hijrah, disaat beliau ‎menghadapi ancaman pembunuhan dan beliau diusir dari ‎kampung halaman, bertujuan untuk memantabkah keyakinan ‎bahwa kebenaran yang menjadi missi perjuangan akhirnya akan ‎mengalahkan kebathilan, karena itu sesudah melewati masa-masa ‎krisis, akhirnya berhasil mengalahkan kaum musyrikin dan ‎menundukkan Mekah, maka beliau sendiri yang pertama kali ‎menghancurkan berhala paganisme sambil membaca ayat ini, ‎dikatakan oleh Ibnu Mas’ud ra:
دَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ عَامُ الْفَتْحِ وَحَوْلَ الْكَعْبَةَ ثَلاَثمَاِئَةِ وَسِتُّوْنَ ‏نَصَبًا، فَجَعَلَ النَّبِيُّ صَلَّى الله ُعَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَطْعِنُهَا بِمِخْصَرَةٍ فِيْ يَدِهِ – وَرُبَّمَا قَالَ ‏بَعُوْدُ – وَيَقُوْلُ: (جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا. جَاءَ الْحَقُّ ‏وَمَا يُبْدِئُ الْبَاطِلُ وَمَا يُعِيْدُ) لَفْظُ التِّرْمِذِيْ. وَقَالَ: هَذَا حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيْحٌ. ‏‏(روى البخاري و مسلم والترمذي عن ابن مسعود)‏
Nabi saw memasuki Mekah pada tahun fathu Mekah dan ‎disekitar Ka’bah terdapat 360 berhala maka Nabi saw ‎merobohkan dengan tongkat ditangannya sambil membaca ‎ayat: Jaa-al haqqu wa zahaqal baathilu …dan dalam riwayat ‎Tirmidzi dengan membaca ayat : jaa-al haqqu wa maa yubdi-ul ‎baathilu wa maa yu’iid, (hadits hasan shahih riwayat: Bukhari, ‎Muslim dan Tirmidzi). ‎
Kekuatan yang haqq adalah berpadunya syareat yang ‎berupa dzikir dan doa dengan hakekat yang dihayati hingga yakin, ‎atau berpadunya kebenaran dan kenyataan, karena bila suatu doa ‎hanya sebagai bacaan tetapi tidak berujud kenyataan dengan ‎pembuktian berarti belum mencapai haqq yang sebenarnya. Bila ‎doa telah berpadu dengan kenyataan maka kebenaran/al haqq ‎akan melenyapkan yang bathil.‎
Dari segi isi, kekuatan yang haqq selalu berawal dengan ‎asma dan kalimat Allaah yang sempurna, karena segala sesuatu ‎yang kosong dari asma atau kalimat Allaah itu sesungguhnya ‎bathil. Dan hal yang bathil itu andaikan ada kekuatan hanyalah ‎kekuatan relative, atau bahkan kekuatan semu yang berasal dari ‎jin atau syetan, dimana saat berbenturan antara yang haqq dengan ‎yang bathil maka yang batil akan hancur, karena yang haqq itu ‎bersumber pada energy/kekuatan mutlak dengan proses ‎pancaran. Karena itu agar seorang mukmin selalu dalam kondisi ‎yang haqq segala sesuatunya tidak boleh kosong asma dan ‎kalimat Allah. Terkait dengan hal ini disebutkan dalam hadits: ‎
عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. قَالَ “أَشْعَرُ كَلِمَةٍ تُكَلِّمَتْ بِهَا ‏الْعَرَبُ كَلِمَةُ لَبِيْدٍ: أَلاَّ كُلُّ شَيْءٍ مَا خَلاَ الله ُبَاطِلٌ” (رَوَاهُ مُسْلِمٌ بَابُ الشَّعِرُ- ‏‏2 (2256)‏
Dari Abi Hurairah, dari Nabi saw, beliau bersabda: “sebaik-baik ‎sya’ir yang dibuat orang Arab adalah kalimat Labid yaitu: ‎Ingatlah semua hal yang kosong dari Allaah itu bathil”. (Hr. ‎Muslim dari Abi Hurairah) ‎
Itu berarti bahwa; bila makan atau minum tanpa berdoa ‎dengan asma Allah atau kalimat-Nya berarti makanan yang masuk ‎perut itu tidak barokah, bila memukul dan pukulan itu kosong ‎dari asma Allaah maka pukulan itu pada hakekatnya bathil. ‎Karena itu semakin banyak berdzikir dengan menyebut asma ‎Allah dalam setiap pukulan atau pertahanan akan semakin besar ‎energy kekuatan mutlak yang masuk, bila telah masuk maka ‎dapat dipergunakan sebagi kekuatan pertahanan maupun ‎penyerangan. ‎
Disebutkan dalam hadits bahwa sebelum munculnya ‎Dajjaal Akan terjadi kejadian-kejadian seperti keterangan Nabi ‎saw: “Akan terjadi kejadian-kejadian yang berat selama 3 tahun ‎sebelum munculnya Dajjaal, manusia mengalami kelaparan yang ‎parah, karena pada tahun pertama Allaah memerintahkan langit ‎agar mengurangi 1/3 dari air hujan, dan memerintahkan bumi ‎mengurangi 1/3 tanaman, pada tahun kedua langit mengurangi ‎‎1/3 dari air hujan, dan merintahkan bumi mengurangi 1/3 ‎tanaman, dan pada tahun ke tiga maka ditahanlah hujan maka ‎tidak hujan sama sekali dan merintahkan bumi untuk menahan ‎semua tanaman maka tanaman tidak ada hujauan yang tumbuh, ‎maka binasalah pohon hingga tak ada yang bisa untuk bernaung, ‎kecuali yang dikehnaki Allaah, maka bertanya shahabat: “wahai ‎Rasulallaah bagaimanakah manusia saat itu bisa hidup?” beliau ‎berkata: “dengan tahlil, takbir dan tahmid, maka akan ‎mengalir atas mereka jalan mendapat makanan!”. (Hadits riayat ‎Ibnu Majah) ‎
Rasulullah saw bersabda kepada Ali bin Abi Thalib ra ‎dengan memanggilnya: Ali!, Ali!, Ali!…….kemudian berkata:‎
إِنَّكُمْ سَتُقَاتِلُوْنَ بَنِي اْلأَصْفَرِ وَيُقَاتِلُهُمُ الَّذِيْنَ مِنْ بَعْدِكُمْ حَتَّى تَخْرُجَ إِلَيْهِمْ ‏رَوْقَةُ اْلإِسْلاَمِ، أَهْلُ الْحِجَازِ الَّذِيْنَ لاَ يَخَافُوْنَ فِي الله ِلَوْمَةَ لاَئِمِ. فَيَفْتَتَحُوْنَ ‏الْقَسْطَنْطِيْنِيَّةَ بِالتَّسْبِيْحِ وَالتَّكْبِيْرِ
Sungguh orang-orang sesudah kalian akan berperang dengan ‎Bani Ashfaar ( orang berkulit putih) sehingga keluarlah Islam ‎yang jernih dari penduduk Hijaz yang tidak takut dengan ‎penghinaan, maka Konstantin dapat dikalahkan dengan tasbih ‎dan takbir. (Hr. Imam Ibnu Majah).‎ ‏ ‏
Oleh sebab itu Kaum muslimin di masa yang telah ‎ditetapkan Allah yang akan datang, saat berperang melawan ‎Dajjal dan bala tentaranya bukan senjata teknologi canggih yang ‎dapat mengalahkannya, tetapi senjata yang memiliki energy ‎mutlak berupa kalimat tauhid dan Takbibir: yaitu “laa ilaaha ‎illallaahu Allaahu Akbar”. Disebutkan dalam hadits beliau ‎bersabda:‎
‏”هَلْ سَمِعْتُمْ بِمَدِيْنَةِ جَانِبٌ مِنْهَا فِي الْبَرِّ وَجَانِبٌ مِنْهَا فِي الْبَحْرِ فَقَالُوْا نَعَمْ يَا ‏رَسُوْلَ الله ِقَالَ لاَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ حَتىَّ يَغْزُوْهَا سَبْعُوْنَ أَلْفًا مِنْ بَنِيْ إِسْحَاقَ حَتىَّ ‏إِذَا جَاؤُوْهَا نَزَلُوْا فَلَمْ يُقَاتِلُوْا بِسِلاَحٍ وَلَمْ يَرْمُوْا بِسَهْمٍ قَالَ فَيَقُوْلُوْنَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ ‏الله ُوَاللهُ أَكْبَرُ فَيَسْقُطُ أَحَدُ جَانِبِيْهَا قَالَ ثَوْرُ وَلاَ أَعْلَمُهُ إِلاَّ قَالَ جَانِبِهَا الَّذِيْ ‏يَلِي الْبَرِّ ثُمَّ يَقُوْلُوْنَ الثَّانِيَّةً لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُوَالله ُأَكْبَرْ فَيَسْقُطُ جَانِبُهَا اْلآخَرِ ثُمَّ ‏يَقُوْلُوْنَ الثَّالِثَةَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله ُوَالله ُأَكْبَرْ فَيُفَرِّجُ لَهُمْ فَيَدْخُلُوْنَهَا فَيَغْنَمُوْنَ فَبَيْنَمَا ‏هُمْ يَقْتَسِمُوْنَ الْغَنَائِمَ إِذَا جَاءَهُمُ الصَّرِيْخُ أّنَّ الدَّجَّالَ قَدْ خَرَجَ فَيَتْرُكُوْنَ كُلَّ ‏شَيْءٍ وَيَرْجِعُوْنَ يُقَالُ إِنَّ هَذِهِ الْمَدِيْنَةُ هِيَ الْقَسْطَنْطِيْنِيَّةُ قَدْ صَحَّتِ الرِّوَايَةُ أَنَّ ‏فَتَحَهَا مَعَ قِيَامِ السَّاعَةِ (مُسْتَدْرَكُ اَلْحَاكِمِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِىَ الله ُتَعَالَى عَنْهُ ‏‏)كِتَابُ الْفِتَنِ وَالْمَلاَحِمِ [ 8469 ]‏
“Apakah kalian sudah mendengar tentang Kota yang disisinya ‎adalah daratan dan sisi lainnya adalah laut?” Mereka (para ‎shahabat) menjawab: “sudah wahai Rasulullah”. Beliau ‎berkata: “tidak akan terjadi kiamat sehingga mereka ‎memerangi 70.000 dari anak-anak Ishaq (bani Israil) hingga ‎bila telah mendatanginya berhadapan maka mereka tidak ‎berperang dengan senjata dan melepaskan anak panah ‎mereka, beliau bersabda: mereka (bersenjata) kalimat Laa ‎ilaaha illallaahu Allaahu Akbar maka robohlah barisan di salah ‎satu sisinya”. (Tsauri salah satu shahabat) berkata: saya tidak ‎tahu kecuali beliau berkata: di sisinya arah daratan, kemudian ‎beliau berkata: “kemudian mereka membaca Laa ilaaha ‎illallaahu Allaahu Akbar yang kedua maka robohlah sisi yang ‎lain, kemudian mereka membaca Laa ilaaha illallaahu Allaahu ‎Akbar yang “Apakah kalian sudah mendengar tentang Kota yang disisinya ‎adalah daratan dan sisi lainnya adalah laut?” Mereka (para ‎shahabat) menjawab: “sudah wahai Rasulullah”. Beliau ‎berkata: “tidak akan terjadi kiamat sehingga mereka ‎memerangi 70.000 dari anak-anak Ishaq (bani Israil) hingga ‎bila telah mendatanginya berhadapan maka mereka tidak ‎berperang dengan senjata dan melepaskan anak panah ‎mereka, beliau bersabda: mereka (bersenjata) kalimat Laa ‎ilaaha illallaahu Allaahu Akbar maka robohlah barisan di salah ‎satu sisinya”. (Tsauri salah satu shahabat) berkata: saya tidak ‎tahu kecuali beliau berkata: di sisinya arah daratan, kemudian ‎beliau berkata: “kemudian mereka membaca Laa ilaaha ‎illallaahu Allaahu Akbar yang kedua maka robohketiga maka tercerai-berailah, kemudian mereka ‎memasukinya dan memperoleh harta rampasan, maka mereka ‎membaginya, ketika itu datang penyeru kepada mereka yang ‎meneriakkan bila Dajjal sudah keluar, maka mereka tinggalkan ‎semuanya dan mereka kembali, dikatakan bahwa kota ini ‎Konstantin”.(Hadits ini telah dishahihkan dengan hadits ‎kemenangan menjelang kiamat) (Hr Al Hakim dari Abi ‎Hurairah) ‎
Semua keterangan hadits di atas menunjukkan bahawa ‎dzikir dan doa adalah kunci pembuka nuur Allaah yang ‎merupakan sumber kekuatan mutlak dan sinkron dengan apa yang ‎diterangkan dan diperintahkan-Nya:‎
Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi ‎pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah ‎‎(nama) Allah sebanyak-banyaknya[*] agar kamu beruntung. (QS ‎Al Anfaal 45).‎
‎[*] maksudnya ialah: memperbanyak zikir dan doa.‎
Dalam semua keadaan, penerapan zikir dan doa dalam ‎latihan dan olah kanuragan untuk mencapai kekuatan mutlak ‎sebagai kekuatan beladiri secara syareat mempunyai dasar yang ‎kuat, karena kekuatan itu salah satu poin utama bagi setiap ‎mukmin, dalam kaitan dengan amanah untuk melaksanakan amar ‎makruf dan nahi mungkar yang tidak dapat dilaksanakan oleh ‎orang lemah, karena itulah Nabi saw bersabda:‎
‏”اَلْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى الله ِمِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيْفِ. وَفِيْ كُلِّ خّيْرٍ. ‏اَحْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللهِ. وَلاَ تَعْجِزْ. وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلاَ تَقُلْ: ‏لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ: قَدَرَ اللهُ. وَمَا شَاءَ فَعَلَ. فَإِنْ لَوْ
‏ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ”. (رَوَاهُ مُسْلِمٍ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ) بَابُ قَدَرٍ (34-2664)‏
Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allaah ‎dari pada orang mukmin yang lemah, dan jangan lemah maka ‎bila sesuatu musibah menimpamu jangan mengatakan: oh ‎andaikan aku begini dan begitu tentu akan begitu dan begini, ‎tetapi katakanlah: Allaah yang menetukan, apa yang ‎dikehendaki pasti dilaksanakan, bila tidak demikian maka ‎terbukalah jalan perbuatan syetan”. (Hr Muslim, dari Abi ‎
Hurairah) ‎
Kekuatan dan keyakinan itu membentuk kurva simetris, ‎artinya bila iman meningkat maka kekuatan pancaran nuur Allaah ‎juga akan miningkat, sebaliknya bila iman menurun maka ‎pancaran nuur-Nya juga melemah. Kemudian bila nuur Allaah ‎telah masuk dalam jiwa raga seorang mukmin, maka kekuatannya ‎tidak lagi terikat pada ukuran besar kecilnya fisik, tetapi ‎tergantung pada keyakinan dan amaliyahnya, bisa saja orang yang ‎gagah dan besar ototnya tetapi lemah keyakinannya, bahkan bila ‎kadar imannya ditimbang tidak lebih berat dari sayap nyamuk. ‎Terkait hal inilah Nabi saw besabda:‎
‏”إِنَّهُ لَيَأْتِيْ الرَّجُلُ الْعَظِيْمُ السَّمِيْنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، لاَ يَزِنُ عِنْدَ الله ِجَنَاحُ بَعُوْضَةٍ. ‏اِقْرَؤُوْا:{فَلاَ نًقِيْمَ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا”[18/الكهف/105]. (رَوَاهُ مُسْلِمٍ عَنْ ‏أَبِيْ هُرَيْرَةَ) بَابُ صِفَّةُ الْقِيَامَةِ 18 – (2785)‏
“Sesungguhnya akan dihadapkan di (pengadilan Allah) pada ‎hari kiamat seorang laki-laki yang besar ototnya (ketika di ‎dunia) tetapi ketika (iman dan amalnya) ditimbang di sisi Allah ‎tidak setimbang dengan sayap nyamuk”. Hadits ini menjelaskan ‎ayat : maka di hari kiamat Kami tidak menimbangnya”. (Surat ‎Al Kahfi ayat 105) (Hr. Muslim dari Abi Hurairah).‎ ‎ ‎
Haqq dan bathil dari segi akidah adalah kepada siapa ‎manusia itu berlindung, bagi seorang mukmin maka hanya satu ‎jawaban yaitu berlindung dan bersandar (tawakkal) hanya kepada ‎Allaah dengan tanpa wasilah keuali amal salehnya. Bila manusia ‎berlindung dan menyandarkan diri kepada selain Allah maka ia ‎berada dalam wilayah bathil, yang bermakna pengingkaran (kufur) ‎kepada eksistensi Allaah dan kekuasaan-Nya. Allaah menegaskan ‎dengan firman-Nya:‎
Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan ‎mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan ‎orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah thaghut, ‎yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada ‎kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; ‎mereka kekal di dalamnya. (QS Al Baqarah 257). ‎
Thaghut adalah segala hal selain Allaah yang dipertuhan- ‎kan manusia, kekuatan metafisik yang dicapai karena thaghut itu ‎berasal dari syetan atau jin kafir dan bentuknya seperti sihir, ‎santet, tenung dan sejenisnya, bila dilihat tampak mirip dengan ‎kekuatan haq yang dicapai seorang mukmin, tetapi bila ‎mengahadapi bahaya yang sebenarnya mereka akan binasa, karena ‎hanya bersandar pada kekuatan semu yang hanya berfungsi ‎sebagai permainan belaka. Kekuatan bathil seperti itulah yang ‎digambarkan bagaikan rumah laba-laba, Allaah berfirman:‎
Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-‎pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat ‎rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah ‎rumah laba-laba kalau mereka Mengetahui. (QS Al Ankabuut ‎‎41). ‎
Proses Syareat untuk mencapai Kekuatan Haq. ‎
Kekuatan Haq hanya bisa dicapai dengan tarekat Islam, ‎yaitu menjalankan tuntunan syareat, mujahadah, riyadhah dan ‎mengamalkan dzikrullah dengan memadukan potensi ‎jasmani/fisik dan rohani dalam setiap gerak dan pernafasan dalam ‎satu focus konsentrasi kepada Allaah. Untuk itu diperlukan ‎latihan-latihan secara rutin dalam bentuk olah kanuragan.‎
Jasmani/fisik adalah potensi yang terikat oleh hukum ‎sunatullah karena itu penting dikaji dan difahami agar gerak-gerik ‎dalam latihan tidak bertentangan dengan ilmu gaya, kecepatan, ‎ketepatan, dan keamanan, dengan konsentrasi menyatukan semua ‎potensi/daya; cipta, rasa, karsa, pengaturan nafas dan penerapan ‎dzikir dalam satu rangkaian.‎
Karena dituntut kecepatan, kekuatan dan akurasi dalam ‎gerak maka dzikir yang tepat diterapkan adalah bacaan Asma-ul ‎Husna dan asma Allaah lainnya, sesuai dengan sifat kekuatan ‎yang diharapkan seperti sifat Allaah yang Maha Gagah, Maha ‎Perkasa, Maha Kuat, Maha dahulu, Maha Memaksa. Penerapan ‎asma-asma Allaah sebagai dzikir untuk mengiringi gerak, baik ‎pukulan, tangkisan maupun hindaran dalam tarekat beladiri ‎secara syareat punya dasar yang kuat, berdasarkan apa yang ‎lakukan Rasululah saw.‎
Misalnya ketika beliau diancam pedang oleh seorang laki-‎laki dari golongan kaum musrikin yang memanfaatkan kelengahan ‎beliau, laki-laki itu mengendap-endap mendekati Rasulullah yang ‎sedang sendirian, kemudian mengambil pedang beliau dan ‎diangkatlah pedang itu kearah beliau sambil berkata : “hai ‎Muhammad, siapa yang dapat menolongmu dari pedang ini?” ‎Dengan penuh keyakinan beliau mengucapkan: “Allaah!” maka ‎seketika itu memancarlah energy metafisik yang meruntuhkan ‎mental laki-laki itu, hingga gemetar badannya dan jatuhlah ‎pedang dari genggamannya, ia pun terpaku tiada berdaya. ‎
Demikian pula ketika dalam perjalanan hijrah beliau saw ‎dikejar oleh Suraqah dengan kudanya dan persenjataan yang siap ‎untuk menyerang, sesudah diperingatkan oleh Abu Bakar beliau ‎segera membaca kalimat Allah yang sempurna, maka tehunjamlah ‎Suraqah beserta kudanya ke dalan bumi, walaupun beliau masih ‎dalam posisi jauh dari jangkauan senjata. Hal ini membuktikan ‎bahwa bacaan kalimat Allaah yang sempurna itu memancarkan ‎nuur-Nya berupa energy metafisik yang tidak tampak tetapi ‎berakibat melemahkan musuh secara nyata.‎
Kalimat Allaah yang sempurna itu mudah dilafalkan ‎dengan lesan manusia, tetapi untuk mencapai tingkat kualitas ‎sehingga dengan melafalkannya, maka memancarlah Nuur Allaah, ‎diperlukan kebersihan niat, latihan/riyadhah dan mujahadah serta ‎menghindari segala perbuatan maksiyat yang dilarang syareat. ‎
Sifat Energy Metafisik.‎
‎1.‎ Energi ini membentuk gelombang memancar dari sumber ‎kekuatan masuk kedalam diri manusia, kekuatan haq berasal dari ‎Nuur Allah yang masuk ke dalam diri orang yang beriman melalui ‎dzikir dan doanya, kekuatan bathil berasal dari syetan atau nafsu ‎amarahnya sendiri, yang dalam lingkungan kita dinamakan ‎sebagai gelombang eter.‎
‎2.‎ Terjadinya benturan energy metafisik dapat bereffek ‎secara nyata dan berdampak secara fisik, seperti terpental dan ‎terhempas, terkunci, pingsan, tertidur, tidak dapat melihat, ‎bahkan dapat merusak organ dalam seperti muntah darah dan ‎lain-lainnya bila memenuhi 3 kondisi:‎
Pertama kondisi: marah yang memuncak, kedua kondisi ‎konsentrasi penuh, ketiga niat aniaya yang telah dilakukan, ‎karena dalam kondisi seperti ini keluarlah gelombang pancaran ‎metafisik berupa eter, yang menguras energy dirinya.‎
‎3.‎ Gelombang pancaran dari ketiga kondisi itu berfungsi ‎sebagai jembatan penghubung sehingga berfungsi untuk ‎memancarkan energy metafisik oleh fihak lain hingga mengenai ‎sasaran ruhani, karena ruhani dan jasmani itu satu kesatuan yang ‎tak terpisahkan maka fisiknya ikut menaggung akibat benturan ‎metafisik itu, inilah yang dimaksud “interaksi metafisik”.‎
‎4.‎ Kekuatan metafisik mengenai sasaran yang bersifat ruh ‎karena itu jin dapat terkena dan dapat membahayakannya. ‎
Contoh untuk hal ini dari kejadian pada Rasulullah saw, ‎pada malam ketika akan berangkat hijrah rumah beliau dikepung ‎musuh saat di dalam rumah beliau sendiri, beliau saw membaca ‎surat Yasiin ayat 8-9, maka para pengepung itu tertidur nyenyak ‎tidak mampu bangun, hingga beliau dapat keluar meninggalkan ‎rumah dengan selamat. Bila direnungkan makna ayat yang beliau ‎baca itu memang sesuai dengan kondisi yang dibutuhkan Nabi ‎saw.‎ ‎
Sesungguhnya kami Telah memasang belenggu dileher mereka, ‎lalu tangan mereka (diangkat) ke dagu, Maka Karena itu ‎mereka tertengadah. Dan kami adakan di hadapan mereka ‎dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup ‎‎(mata) mereka sehingga mereka tidak dapat Melihat. (QS Yasin ‎‎8-9).‎
Bila kita kaji, effek doa Nabi saw itu begitu nyata seperti ‎isi kandungan ayat yang beliau baca, karena pancaran nuur dari ‎bacaan itu dapat masuk mengenai para pengepung yang ‎mempunyai niat aniaya, niat jahat mereka itu telah membentuk ‎gelombang pancaran keluar dari nafsunya yang bernafsu ‎membunuh dan bernafsu mendapat hadiah 100 unta, gelombang ‎itulah yang menjadi jembatan hingga pancaran nuur yang ‎mempunyai sifat mutlak itu dapat masuk dan mengunci diri ‎mereka. ‎
Kalimat Allah yang sempurna, tidak disebut sempurna ‎bila hanya berlaku pada Nabi saw saja, dan tidak sempurna bila ‎hanya berlaku pada zamannya saja, karena itu kalimat sempurna ‎adalah kalimat Allah yang berlaku bagi siapa saja, kapan saja dan ‎dimana saja, tidak terbatas oleh figur, ruang dan waktu, artinya ‎siapa saja, dimana saja dan kapan saja selama ia memenuhi syarat ‎dalam keimanan dan amalannya, maka Allaah akan memancarkan ‎nuur sebagai kekuatan kepadanya, karena Allah memberikan ‎kekutan itu seimbang dengan tingkat keimanan dan amalannya.‎
Fakta demikian tetap terbukti hingga akhir zaman sesudah ‎melampau 1400 tahun, dari para anggota tarekat beladiri yang ‎menerapkan disiplin dzikir, mujahadah dan riyadhah serta latihan-‎latihan rutin. Mereka tidak meminta tetapi Allah memberi dan ‎menunjukkan kekuasaan kepadanya. Diantaranya ada yang ‎mengalami peristiwa demikian; suatu hari ia pulang ke kampung ‎halamannya, sesudah turun dari bus antar kota, untuk sampai di ‎desanya, ia menempuh jalan kaki dengan jalan pintas melalui ‎hutan.‎
Baru beberapa langkah memasuki hutan di daerah Blora ‎Jawa Tengah, ia menyaksikan 5 orang penjahat bersenjata tajam ‎menyeret gadis SMP hendak mereka perkosa. Maka tergeraklah ‎imannya untuk mencegah usaha mereka menodai gadis itu. ‎meskipun ia tidak bersenjata tapi keyakinan dan dzikirnya telah ‎menjadi senjata yang lebih bermanfaat. Maka dibentaklah ‎penjahat itu dan diteriaki dengan keras, akibatnya ia dikeroyok 5 ‎penjahat bersenjata, dengan modal keyakinan dan ilmunya ia ‎tawakkal kepada Allah dan dihadapi tanpa rasa gentar sedikitpun. ‎
Ketika dengan serentak mereka menghantamkan ‎senjatanya, ia sudah siap dengan jurus dan kalimat Allah yang ‎sempuna, maka terjadilah benturan kekuatan haqq dan bathil, ‎akibatnya sebelum senjata menjangkau badannya, dalam sekejap ‎kelima penjahat bersenjata itu terlempar ke udara secara ‎bersamaan dan mereka semua jatuh dan roboh hingga pingsan. ‎Mereka tetap ditunggu sambil dibacakan doa, akhirnya menjadi ‎sadar.‎
Sesudah sadar tenaga mereka pun habis terkuras, mereka ‎merasa ta’jub dengan ilmu yang dimilikinya mereka ingin berguru ‎kepadanya, sesudah diterangkan bahwa syaratnya harus Islam, ‎diketahui bahwa ke lima penjahat itu 4 orang beragama Nasrani, ‎maka saat itu juga mereka ingin bertaubat, ingin masuk Islam dan ‎minta disyahadatkan. Ini salah satu kisah nyata dari banyak kisah ‎serupa yang benar-benar dialami. Yang membuktikan ‎kemukjizatan Al Quran sepanjang zaman, dan inilah kebenaran ‎yang tidak pernah kosong dari kalimat Allah yang sempurna. ‎
Bila telah berbekal iman, ilmu dan amal, seorang mukmin ‎harus menjaga keyakinannya, agar tidak luntur oleh lingkungan ‎yang mempengaruhinya, hingga tetap yakin bahwa suatu musibah ‎tidak akan menimpanya kecuali bula telah ditetapkan Allah, Dia ‎berfirman: ‎
Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan ‎apa yang Telah ditetapkan Allah untuk kami. dialah pelindung ‎kami, dan Hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus ‎bertawakal.”(QS At Taubah ayat 51)‎
Ini adalah keyakinan bahwa musibah, kecelakaan dan ‎bahaya itu tidak menimpa pada seseorang kecuali bila Allaah ‎telah menetapkan baginya. Islam mengajarkan untuk menghindar ‎dari bahaya, tetapi bila terpaksa harus berhadapan maka dihadapi ‎dengan ilmu, kekuatan dan keyakinan bahwa kekuatan itu hanya ‎milik Allah semata.‎
Manusia selalu dilingkupi oleh bahaya karena itu berdoa ‎untuk memohon keselamatan dan aman dari bahaya diajarkan dan ‎diperintahkan oleh Rasulullah saw . Do’a dan dzikir yang diamal- ‎kan bukan untuk menjadi kebal atau menghindari mati, tetapi ‎untuk mencapai yakin seperti kandungan doa yang diajarkan oleh ‎Rasulullah saw, masalah kebal, atau mati itu urusan Allaah, bila ‎Allaah menghendaki bisa saja dijadikan kebal saat terkena ‎tembakan atau tusukan pedang, tetapi hal itu hanya saat ada ‎datang bahaya bukan setiap saat kebal, karena hakekatnya adalah ‎diamankan dan diselamatkan dari bahaya. Secara bahasa awam ‎Nabi Ibrahim as itu kebal api, tetapi hakekatnya bukan kebal ‎tetapi diselamatkan dari bahayanya.‎
‎ Hal seperti ini adalah keyakinan yang boleh dan dapat ‎dipacapai oleh orang mukmin walaupun Rasulullah saw sendiri ‎tidak tampak kebal senjata, karena bila rasul itu kebal senjata ‎dapat menjadi standar hukum bagi umatnya, artinya kalau belum ‎kebal senjata berarti imannya belum benar, hal ini akan ‎mempersulit umatnya, standar agama yang bersifat syareat itu ‎bersifat umum dan secara umum mudah dilakukan umatnya, ‎tetapi amalan pribadi Nabi saw yang tidak disyareatkan secara ‎umum hanya diketahui oleh orang-orang dekat, merupakan ‎keutamaan yang dianjurkan, bila mampu mengamalkan akan ‎memperteguh keyakinan yang sangat penting bagi penegakkan ‎kebenaran. ‎
Kekuatan dari Allaah adalah kekuatan Al Haq ( Yang ‎Maha Benar), yang tidak dapat bersatu dengan kebathilan ‎‎(kesesatan). Ia bisa dicapai dengan memahami, riyadhah , ‎mengamalkan dzikir dan do’a yang diajarkan Rasulullaah saw. ‎kemudian membuktikannya sebagai pengalaman Ketuhanan.‎

Satu pemikiran pada “KEKUATAN HAQ DAN BATHIL

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s