PENGALAMAN ILAHIYYAH

Muqaddimah.

الحمد لله الذي أنزل لنا هذا القرآن ليكون نوراً وشفاء ورحمة فيخرجنا من الظلمات إلى النور، هذا الإله الرحيم أرسل لنا خير البشر ليعلِّمنا الكتاب والحكمة، وليدلَّنا إلى طريق الحق ويهدينا إلى صراط الله المستقيم، وصلى الله على هذا النبيّ الأميّ محمد وعلى آله وصحبه وسلَّم وبعد:

Sejak dulu hingga sekarang banyak orang yang meragukan dan mendustakan kebenaran Islam, Al Quran dan Sunnah Rasul, supaya kita tidak ragu memeluk Islam kita mesti berusaha dengan mujahadah, tidak cukup sekedar menerima Islam secara pasif tanpa ada usaha meningkatkan imannya. Seorang muslim wajib berusaha untuk mencapai tingkat keimanan yang kuat yang disebut yakin, yaitu hilangnya keraguan sesudah dialami dan dibuktikan.

Allah SWT memerintahkan agar kita menyembah Allah dengan keyakinan penuh, tanpa keraguan, Allah berfirman :

وَاعْبُدُوْا اللهَ حَتَّى يَأْتِيَكَ الْيَقِيْنَ

“dan sembahlah Tuhanmu hingga datang keyakinan kepadamu”. (QS Al Hijr:   ayat :99 ). Keyaqinan itu dapat dicapai dengan beberapa jalan/metode:

  1. Mempelajari kitab Allah dan Sunnah Rasul.
  2. Melaksanakan semua perintah Allah dan meninggalkan semua larangan-Nya.
  3. Mengkaji alam semesta karena di dalamya banyak tanda bukti keagungan Allah SWT.
  4. Menempuh jalan thariqah untuk menggali potensi rohani dengan bimbingan ulama ahli dzikir, hingga memperoleh pengalaman Ketuhanan.
  5. Istiqamah dalam menjalankan tuntunan Islam, tidak mencampur aduk yang haq dengan yang bathil.

Makalah ini bertujuan untuk memaparkan pengalaman KeTuhanan yang saya lalui yang membuktikan benarnya Islam sebagai satu satunya agama yang diridhoi Allah SWT. dan mencapai  hidup bahagia dunia akhirat. Pengalaman ini saya tulis dengan tujuan membicarakan nikmat Allah yang berupa pertolongan, perlindungan, kepada hambanya yang selalu bertawakkal kepada Allah, karena Allah berfirman : “Dan dengan nikmat Tuhanmu maka perbincangkanlah”. Saya berlindung kepada Allah dari sifat takabbur, karena sifat itu hanya milik Allah semata, kita manusia hanyalah mahluk yang lemah, bila tanpa pertolonganNya, tidak akan mampu berbuat sesuatu apapun. Lahaula wa laa quwwata illaa billah.

Saya percaya bahwa pengalaman saya ini hanyalah pengalaman kecil dibandingkan dengan saudara sesama muslim lainnya, namun demikian semoga apa yang kami ungkapkan ini bisa menjadi motifasi bagi yang ingin meningkatkan imannya untuk mencapai tingkat yaqin.

Pentingnya Pengalaman Ketuhanan.

Tidak dapat disangkal bahwa keimanan para Nabi dan Rasul adalah tingkat keimanan yang tertinggi dibanding manusia lainnya. Hal ini karena beberapa faktor, termasuk di dalamnya yaitu factor pengalaman Ketuhanan yang dialami para Nabi dan Rasul itu. Contoh Nabi Musa as. Sebelum Allah  mengutus Nabi Allah Musa as  untuk memperingatkan Fir’aun penguasa Mesir waktu itu, dan  menyelamatkan  serta  membimbing bani Israel, Nabi musa as sudah mengalami berbagai macam pengalaman Ketuhanan yang memantabkan keimanannya. Kitab Allah menyebutkan permintaan izin Nabi Musa kepada Allah untuk dapat melihat dzat Allah SWT. Allah berkata :

143.  Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau”. Tuhan berfirman: “Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: “Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman”.QS Al A’raaf  ayat 143

Para Mufassirin ada yang mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah, dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah. Bagaimanapun juga nampaknya Tuhan itu bukanlah nampak makhluk, hanyalah nampak yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.

Untuk  mencapi keyakinan dalam keimanannya Nabi Allah Ibrahim as memohon kepada Allah SWT, tersebut dalam Al Quran :

260.  Dan (Ingatlah) ketika Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, perlihatkanlah kepadaku bagaimana Engkau menghidupkan orang-orang mati.” Allah berfirman: “Belum yakinkah kamu ?” Ibrahim menjawab: “Aku Telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku) Allah berfirman: “(Kalau demikian) ambillah empat ekor burung, lalu cincanglah semuanya olehmu. (Allah berfirman): “Lalu letakkan diatas tiap-tiap satu bukit satu bagian dari bagian-bagian itu, Kemudian panggillah mereka, niscaya mereka datang kepadamu dengan segera.” dan Ketahuilah bahwa Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Baqarah ayat 260 ).

Pengalaman Ilahiyyah.

Pengalaman I

Sekitar tahun 1985 dibulan Ramadhan saya bermimpi bahwa saya beri’tikaf di masjid, yang ada di tengah-tengah lembah yang dikelilingi gunung. Saya duduk menghadap kiblat di serambi masjid.  Selain saya banyak juga orang yang beri’tikaf di serambi dengan cahaya tidak begitu terang. Antara serambi tempat I’tikaf dengan ruang masjid bagian dalam dibatasi oleh pintu yang tertutup. Beberapa saat kemudian kami semua yang berada di serambi merasakan suasana yang sangat menakutkan, sehingga semua orang yang I’tikat keluar satu persatu, mereka berdiri di depan masjid sambil mengawasi kedalam masjid, hingga saya tinggal sendiri di  dalam serambi. Sesudah saya pertahankan diri untuk tidak meninggalkan tempat I’tikaf ternyata saya gemetar tidak kuat menahan rasa takut, jadilah  saya orang terakhir yang keluar dari serambi, kemudian saya berdiri melihat  pintu masjid yang membatasi antara serambi dengan ruang dalam masjid itu. Tiba tiba pintu itu terbuka sendiri, seperti pintu otomatis yang sebelah kanan bergeser kekanan dan yang sebelah kiri bergeser ke kiri, kemudian muncullah sosok orang yang memakai surban dan jubah serba putih, berdiri menghadap kearah luar dengan pandangan mata yang sangat tajam dan berwibawa. Sosok manusia itu kemudian berjalan keluar tanpa melangkahkan kaki, dan kakinya tidak menyentuh lantai, kira kira berjarak satu jengkal diatas lantai, sesudah sampai diluar masjid saya dipeluk oleh sosok manusia itu, kamudian melepaskan pelukannya, dan ia melesat bagikan kilat. Sesudah saya kejadian itu seketika  hilanglah suasana dan rasa takut saya, maka hati saya mendorong untuk berani bertanya kepadanya bila dia kembali. Dalam periode tidak lama sosok itu datang dan akan masuk masjid, tetapi berhenti sebentar didepan tempat kami berdiri, maka saat itu saya bertanya kepadanya: “ Apakah amalan anda sehingga anda memiliki wibawa yang luarbiasa menakutkan.?”  Sosok manusia itu menjawab : “Banyak sujud”  Sesudah menjawab dengan singkat, dia langsung masuk kedalam masjid dengan cara berjalan yang sama seperti waktu keluarnya, dan pintu itu secara otomatis menutup kembali.

Hikmah mimpi saya:

  1. Diluar dan di dalam bulan Ramadhan saya perbanyak dzikrullah dengan asma asma Allah dan kalimat tahlil.
  2. Dalam bisikan hati saya ada yang mengatakan bahwa itu malaikat Allah yang menjelma berujud manusia. Wallahu a’lam bis shawab.
  3. Sebelum dipeluk dalam mimpi itu, saya belum mendapat hidayah keyakinan yang mantab, dan sesudah mimpi itu hingga sekarang, Allah memberi taufiq dalam keyakinan saya, sehingga yakin bahwa segala bahaya langit dan bumi tidak akan berbahaya bila Allah melindungi kita.

3      Kewibawaan seseorang tergantung dari kedekatan dan ketaatannya kepada Allah SWT.

Seorang   muslim tidak akan mempunyai wibawa dan tidak ditakuti musuhnya bila mengabaikan

Sujud kepada Tuhannya.

Pengalaman II.

Sekitar Tahun 1986 saya mengajar di Sekolah Dasar Negri Klitren Yogya Utara. Suatu pagi seperti biasanya, saya berangkat ke sekolah dengan mengayuh sepeda onthel, dari Kampung Warungboto ke Klitren, karena motor saya baru diservis. Ketika saya lewat kampung Janturan sebelah utara Warungboto, saya melihat seorang laki-laki gemuk, besar menghajar muka laki-laki tetangganya sendiri, hingga mukanya lebam kemerah-merahan. Namun pelaku yang sudah menghajar itu tidak puas dengan pukulan tangan,  dengan kemarahan memuncak ia lari pulang ke rumah untuk mengambil bendo/ sabit, akan digunakan untuk membunuh laki-laki tetangganya itu.

Saat kembali ia sudah membawa sabit itu di tangannya. Ketika itu saya berhenti dan berfikir, kalau tidak ada yang mencegah dan menolong bisa terjadi pembunuhan. Karena itu saya bertekad menghadapi orang yang sudah kalap itu. Saya berhenti di depan rumah laki-laki yang tadi sudah di hajarnya, dan pembawa sabit itu berjalan kearah saya, saya mulai siaga, dengan penuh keyakinan orang itu saya hadapi, melihat saya, orang itu berhenti, dan saya tetap menunggunya, sambil saya baca awal ayat Kursiy,” Allahu laa ilaaha illa huwal Hayyul Qayyuumu”.

Baru sampai disitu bendo/ sabit yang dibawa laki-laki itu, terjatuh di atas jalan, dengan bunyi kemlontheng, dan orang itu lari pulang kerumah dengan meninggalkan sabitnya. Melihat hal itu orang kampung baru berani mendekat tempat kejadian, dan saat  laki-laki itu datang kembali dengan tangan kosong akan menghajar lagi, maka dipegang oleh beberapa orang kampung termasuk saya. Bahkan tangannya sempat saya putar, hingga orang kapung ada yang bilang :” jangan begitu nanti kamu dicegat dan dihajar!” saya jawab:” silahkan cegat saya nanti boleh, besuk juga boleh kalau berani, saya setiap hari lewat sini, saya orang Warungboto !”

Hikmah Kejadian:

Saya yakin Allah SWT memberi kekuatan dan pertolongan kepada saya, karena saya selalu berdo’a dan berdzikir mengamalkan do’a – do’a anti bahaya dan asma kekuatan disertai riyadhah, yaitu mengamalkan amalan hingga mencapai keyakinan yang dapat dibuktikan, disamping saya mempelajari tehnik bela-diri untuk mengusai senjata tajam.

Pengalaman III

Tahun 1987 saya mengajar di daerah Gunung Kidul di dekat Hutan Wana Gama Kecamatan Playen. Saya tempuh perjalanan dari Yogyakarta dengan menumpang bus, kemudian turun di Gading (jalan Yogya –Wonosari), dan saya mengambil sepeda angin yang saya titipkan di rumah  penduduk setempat untuk melanjutkan perjalanan hingga sampai di sekolah yang berjarak kira-kira 2,5 km.

Pada suatu malam di Yogyakarta saya melatih beladiri mahasiswa IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang jumlahnya lebih dari lima puluh orang, mereka saya latih beladiri,  dzikrullah dan do’a. Sesudah saya pulang dirumah, saya berdo’a kepada Allah :” Ya Allah tunjukkanlah kekuasaan-Mu kepadaku, agar aku dapat meyakin anak-anak didik untuk beriman kepadamu dan yakin pada kekuasaan-Mu”. Kemudian saya tidur.

Paginya seperti biasa saya berangkat ke Gunungkidul untuk mengajar Agama Islam di SD Karangtunggal Kecamatan Playen. Sesudah selesai mengajar saya pulang mengayuh sepeda. Kira-kira jarak 500 meter dari Desa Gading, dari arah belakang ada mobil angkutan umum meluncur dari arah belakang saya dengan kecepatan tinggi, saat itu sudah terasa bila saya akan ditabrak. Karena itu saya kendarai sepeda menepi, ternyata saya tetap ditabrak. Ketika mobil itu menghantam punggung saya ada suara ledakan seperti suara ban mobil meletus, dan dengan pertolongan Allah SWT saya tidak tergoncang atau tergeser sedikitpun karena benturan itu, dan saya tidak merasakan sakit sama sekali. Sesudah itu mobil behenti di depan saya, dan sopirnya keluar untuk memeriksa kerusakan pada mobilnya. Waktui itu saya turun dari sepeda dan mendekati sopir itu, kemudian para penumpang dengan rasa panik/cemas bertanya kepada saya: “ bagaimana pak keadaan bapak”?  saya bilang : “ Al hamdulillah tidak kurang suatu apa”!  Sopir itu saya tanya : “Sopir bagaimana kamu ini, saya sudah bersepeda dinggir tetapi tetap kamu tabrak”?

Sopir itu hanya diam tidak meminta maaf, andaikata dia berbicara jelek akan saya hajar dia. Kemudia saya lihat kerangka besi yang melindungi spion mobil sebelah kiri itu bengkok. Kemudian saya naik sepeda lagi.

Beberapa saat kemudian baru saya ingat bahwa tadi malam saya berdo’a mohon kepada Allah agar ditunjukkan kekuasaan-Nya kepadaku agar aku menjadi yakin, untung saya tidak memukul sopir itu.

Hikmah Kejadian:

Benarlah firman Allah :

Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang Telah ditetapkan Allah untuk kami. dialah pelindung kami, dan Hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”(QS At Taubah ayat 51)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s