PENGALAMAN ILAHIYAH II

PENGALAMAN ILAHIYAH II

Gunung Berhenti Mengeluarkan Lahar karena mendengar Tasbih.

Firman Allah Ta’ala:

Dan Sesungguhnya Telah kami berikan kepada Daud kurnia dari kami. (Kami berfirman): “Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud”, dan kami Telah melunakkan besi untuknya, (Surat As Saba ayat 10).

Hikmah kejadian.

Tahun 1996 kami sejumlah anggota Majlis Thariqah Ahlu Dzikri Yogyakarta sepakat untuk mengadakan adabtasi alam, yaitu dzikirullah di alam bebas, sambil membaca ayat Allah yang tergelar di alam bebas sebagai tanda Keagungan dan kekuasaan Allah SWT.

Hal ini sering kami lakukan semata mata untuk berlatih konsentrasi agar keyakinan kami selalu terjaga dan berguna untuk menghadapi tantangan kehidupan yang penuh dengan fitnah, bila tanpa keyakinan, iman manusia di akhir zaman akan mudah goyah bahkan tumbang oleh godaan duniawi.

Kejadian yang kami alami sebagaimana akan saya ceritakan ini mengandung hikmah 1. bahwa alam itu benar-benar bertasbih kepada Allah SWT, termasuk gunung gunung yang merupakan bagian dari alam. 2. Kejadian ini membuktikan bahwa apa yang kami amalkan dari amalan dzikrullah adalah syah dan insya Allah diridhoi-Nya, karena bila tidak syah dan tidak diridhoinya tidak mungkin berdampak pada gunung yang kami datangi sebagai ajang amalan dzikrullah.

Saat itu kami sejumlah 40 orang sesudah kami anjurkan berpuasa sunat yaumul bidh yaitu tanggal 13,14 dan 15 di bulan purnama, maka pada malam harinya (tanggal 16)kami berangkat dengan mobil ke daerah Sleman menuju bukit Turga di sebelah selatan gunung Merapi Yogyakarta.

Gunung berapi itu pada tahun 1994 meletus dan penduduk di sekitar bukit Turgo banyak yang menjadi kurban dari Wedus Gembel (awan panas yang keluar dari dalam gunung yang membakar apa saja yang diterjangnya).

Ketika rombongan turun dari mobil di kaki bukit itu kami disambut oleh lolongan anjing anjing, saat itu kami berfikir, oh ya wajar bila daerah ini terkena awan panas dan banyak kurbannya. Mengingat banyak orang memelihara anjing, hewan yang air liurnya najis mughaladzah, dan malaikat tidak akan masuk rumah bila di dalamnya ada anjing.

Kemudian kami serombongan naik bukit Turga dengan berjalan kaki melalui jalan setapak, dan kami sampai di puncak bukit kira-kira jam 11 malam. Di atas bukit itu ada makam, tetapi kami tidak mengunjungi makam yang kami tidak mengenalnya.

Dari atas Bukit Turga itu pemandangan puncak gunung Merapi nampak jelas, dimana gunung Merapi itu tidak henti-hentinya memuntahkan lahar, dengan suara gemuruh dan ketika batu-batuan yang merah membara itu jatuh ke jurang mengeluarkan suara keras (gemblodag) dan hancur berkeping keeping dan percikan percikan api karena terpecah.

Saat itu semua jamaah saya suruh melihat lahar dan batu-batuan yang merah membara sambil saya ungkapkan ayat :

قُوْا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا أَلَّتِيْ وَقُوْدُهَاالنََّاسُ وَالْحِجَارَةُ أُعِدِّتْ لِلْكَافِرِيْنَ

Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu-batuan, yang disediakan bagi orang-orang yang kafir. Saya katakan kepada sahabat sahabat : apakah kita mampu menerima azab seperti ini ?”

Sesudah itu kami mulai berdzikir bersama-sama dengan saya pimpin, dan apa yang terjadi? Saat kami mulai berdzikrullah gunung Merapi itu berhenti mengeluarkan lahar dengan seketika, sehingga suara dzikir yang kami baca secara jahr itu nyaring terdengar, karena suara gemuruh gunung itu berhenti seiring dengan berhentinya lahar.

Kami berdzikir hingga sekitar satu jam dan gunung berapi itu tetap diam tidak mengeluarkan lahar. Saat itu sebagain besar jamaah berdzikir sambil menangis, karena mengalami kejadian yang luar biasa yang menunjukkan kebesaran Allah SWT, dan belum tentu setiap orang ditunjukkan Allah pada KekuasaanNya itu.

Sesudah selesai, kami beristirahat dan memperbincangkan kejadian itu sambil terus mengawasi gunung itu, kira-kira 15 menit dari selesainya dzikir kami melihat gunung itu kembali memuntahkan lahar seperti sebelumnya. Setelah beberapa bulan kemudia sekitar tahun 1997, jamaah masjid Kaliurang Kabupaten Sleman Yogyakarta meminta bantuan jamaah kami untuk berdzikir bersama dan berdo’a sebagai tolak balak dari gunung Merapi.

Maka kami sanggupi dan kami hadir sebanyak 2 bus dari Yogyakarta, tempat pelaksanaan dzikir di masjid depan pintu gerbang obyek wisata Kaliurang (timur Jalan), dan ternyata apa yang diupayakan dengan dzikir dan doa itu diijabahi Allah SWT, ketika gunung Merapi meletus yang ke 2 sesudah letusan pertama tahun 1994, daerah kaliurang dan arah  selatan (Yogyakarta) tidak terkena dampak letusan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s