PENTINGNYA DZIKIR JAHR

BACAAN DZIKIR DENGAN SUARA KERAS

فَإِذَا قَضَيْتُمْ مَنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُوْا اللهَ كَذِكْرِكُمْ ءَابَاءَكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَنْ

يَقُوْلُ رَبَّنَا˜ءَاتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَالَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلأقٍ

Apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berdzikirlah dengan lebih keras dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. (Surat Al Baqarah ayat 200).

Keterangan: adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu Bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya dengan suara keras (ngotot) setelah ayat Ini diturunkan Maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah.

Sighat/ bentuk isim dalam bahasa Arab yang digunakan pada ayat ini berbentuk jamak, artinya dalam suatu kumpulan orang-orang mukmin yang banyak yang berjumlah lebih dari 2 orang bacaan dzikirullah sebaiknya dibaca secara jahr/ dengan suara relative keras. Hal ini berbeda dengan dzikir munfarid atau sendirian yang disunnahkan dibaca secara siir/pelan, cukup dalam hati, sebagaimana ayat dalam surat Al A’raaf ayat 205.

Contoh dalam manasik haji yang dilaksanakan secara jamaah, dahulu bacaan talbiyah dalam manasik haji itu dilakukan dengan bacaan siir/pelan, karena saat itu masih berpegang pada pengertian bahwa Allah sudah maha mendengar jadi tidak perlu dikeraskan. Mereka belum sampai pada hikmah bacaan jahr/keras karena belum ada dasarnya dan apa hikmahnya.

Semenjak Rasulullah mendapat perintah Allah agar mengeraskan bacaan talbiyah,  maka sejak saat itu hingga sekarang bacaan talbiyah dibaca dengan keras/jahr. Hal ini berdasar hadits Nabi saw :

أتاني جبريل فأمرني أن آمر أصحابي ومن معي أن يرفعوا أصواتهم بالتلبية

‏(‏حم 4 حب ك هق‏)‏ عن السائب بن خلاد ‏(‏صح‏)‏

Malaikat Jibril datang kepadaku untuk menyuruhku dan sahabatku dan siapa saja yang mengikutiku agar meninggikan suara mereka dalam membaca talbiyyah. (Hadits riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, Al Hakim, dan Ibnu Majah dari As Saib bin Khalad, Shohih. (Kitab Jamius Shaghir)

Bacaan dzikir dengan suara keras dalam jamah kaum muslimin mengandung hikmah: pertama sebagai syiar Islam, dan syiar-syiar Islam itu termasuk dari tanda-tanda ketaqwaan hati sebagaimana firman Allah dalam surat Al Hajj ayat 32:  Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, Maka Sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.

Keterangan:  Syi’ar Allah secara khusus ialah: segala amalan yang dilakukan dalam rangka ibadat haji dan tempat-tempat mengerjakannya. dan secara umum adalah segala amalan yang disunnahkan untuk dinampakkan sebagai pengagungan kepada Allah SWT, contoh Takbir malam 2 hari Raya, bacaan Al Quran di hari Jumat dan lain lain termasuk bacaan dzikrullah dalam bentuk jamaah.

Kalau ada yang berpendapat syiar Islam itu cukup di Mekkah dalam ibadah haji hal ini tidak rasional, karena Islam itu rahmatan lil alamin, artinya Syiar Islam itu tidak cukup hanya diagungkan di Mekah saja, tetapi diseluruh jagad raya ini seharusnya ada syiar Islam dan salah satunya dengan mendengungkan asma Allah dalam bentuk dzikir dengan suara jahr.

Kedua suara dzikir yang relative keras sangat tepat untuk melatih anak-anak melafalkan kalimat thayibah di lesan dan dalam hati mereka, sehingga bacaan itu member atsar (efek) yang positif dalam jiwa mereka. Hal ini sesuai dengan prinsip pembelajaran yang diperlukan pengucapan yang jelas, suara yang bisa masuk ke telinga, gambaran yang bisa dilihat, dan suatu amal yang dapat dilakukan.

Kadang kadang yang butuh hal itu bukan saja anak-anak, orang dewasa juga membutuhkan, karena suatu alasan seperti belum hafalnya suatu bacaan doa atau kalimat dzikir, maka dengan suara jahr mereka dapat menirukan dan lama kelamaan menjadi hafal.

Ketiga setiap bacaan itu menimbulkan getaran/ resonansi di udara dan benda benda di sekelilingnya, pada zaman akhir ini  getaran getaran suara yang ada secara mayoritas hanyalah getaran dari lagu-lagu dan musik maksiyat yang bermuara dari nafsu hewani dan nafsu birahi, hal ini akan menambah panasnya lingkungan alam hingga dunia ini tidak nyaman lagi untuk dinikmati. Mengapa bias berpengaruh panas? Jawabnya karena kemaksiyatan manusia telah menyebabkan uap api neraka menerpa dunia ini.

Dengan dzikir jamaah yang dibaca secara jahr, diharapkan dapat menetralisir getaran getaran dari ucapan dan suara-suara maksiyat sehingga dapat mengurangi hawa panas dari uap neraka jahanam yang menerpa dunia ini. Bila tidak ada lagi manusia yang mau mengucapkan kalimat Allah Allah atau kalimat thayibah berarti penghuni dunia semuanya sudah jahat dan akibatnya bukan sekedar berlubangnya langit yang disebut sebagai lubang ozon tetapi terjadilah kiamat yang menghancurkan seluruh jagad raya ini.

Karena itu nabi bersabda:

لا تقوم الساعة إلا على شرار الناس  – ‏(‏حم م‏)‏ عن ابن مسعود – ‏(‏صح‏)‏

Tidak akan terjadi kiamat itu kecuali pada sejelek-jelek manusia. (hadits riwayat Ahmad dan Muslim dari Ibnu Mas’ud, Shohih). Jamius Shaghir no: 9850.

لا تقوم الساعة حتى لا يقال في الأرض‏:‏ ‏”‏الله، الله‏”‏  – ‏(‏حم م ت‏)‏ عن أنس – ‏(‏صح‏)

Tidak akan terjadi kiamat itu kecuali bila sudah tidak ada penduduk bumi yang mengucapkan kalimat Allah – Allah. (Hadits riwayat Ahmad, Muslim dan Tirmidzi dari Anas, Shohih) Jami’us Shaghir no 9849.

4 thoughts on “PENTINGNYA DZIKIR JAHR

  1. Imam Abu Hanifah mengatakan: “Sesungguhnya mengangkat suara ketika membaca takbir, pada asalnya adalah bid’ah, karena ia termasuk dzikir. Sunnahnya dalam berdzikir adalah dengan melirihkan suara, sebagaimana firman-Nya: “berdoalah dengan rendah hati dan melirihkan suara!” (Al-A’rof: 55)… oleh karenanya (doa yang demikian) itu lebih dekat kepada kerendahan hati, lebih sopan, dan lebih jauh dari riya’. Maka hukum asal ini tidak boleh ditinggalkan, kecuali bila ada dalil yang mengecualikannya. (Bada’iush Shona’i’ fi Tartibisy Syaro’i’ 1/196)
    Dalam kitab Addurruts Tsamin wal Mauridul Mu’in (hal. 173, 212) dikatakan: “Imam malik dan sekelompok ulama, membenci doa yang dilakukan para imam masjid dan para jamaah setelah sholat fardhu, dengan cara mengeraskan suaranya hingga didengar oleh orang banyak”.
    Imam Syafii mengatakan: “Saya memilih (pendapat) untuk imam dan ma’mum, agar mereka membaca dzikir setelah (jama’ah) sholat (wajib) dengan melirihkan suara, kecuali imam yang ingin agar para ma’mumnya bisa belajar darinya, maka boleh baginya mengeraskan suaranya hingga ia melihat para ma’mum telah belajar darinya, lalu ia melirihkan kembali suaranya. Demikian itu, karena Alloh berfirman: “Jangan kamu mengeraskan suara dalam sholatmu, jangan pula (terlalu) melirihkannya” (al-Isro’), maksudnya -wallohu a’lam- adalah dalam hal doa, jangan (terlalu) mengangkat suara, dan jangan (terlalu) melirihkannya hingga dirimu sendiri tidak mendengarnya”. (al-Um 1/11)
    Imam nawawi mengatakan: “Adapun apa yang biasa dilakukan oleh orang-orang, dengan mengkhususkan untuk imam, agar berdoa setelah selesai sholat Shubuh dan Ashar, maka hal ini tidak ada dasarnya sama sekali”. (Al-Majmu’ 3/469)
    Imam Nawawi juga mengatakan: “Disunnahkan dzikir dan doa setiap selesai sholat dan melirihkannya. Jika ia seorang imam dan ingin mengajari para ma’mumnya, ia boleh mengeraskan suaranya, lalu kembali melirihkan suaranya, jika mereka sudah bisa (melakukannya sendiri). (at-Tahqiq lin Nawawi, hal:219, Miskul Khitam, hal 137-141)
    Ibnu Taimiyah mengatakan: “Adapun doa yang dilakukan Imam bersama-sama dengan makmum setelah sholat, maka hal ini tidak ada seorang pun yang meriwayatkannya dari Nabi -shollallohu alaihi wasallam-“. (Majmu’ Fatawa Ibnu Taimiyah 22/515)
    Ibnul Haj mengatakan: “Sebaiknya orang yang dzikir bersama di masjid sebelum dan sesudah sholat (wajib), atau di waktu lainnya, itu dilarang. Karena hal itu merupakan sesuatu yang mengganggu”. (Ishlahul Masajid, hal. 111)
    Az-Zarkasyi mengatakan: “Semua dzikir itu sunnahnya dilakukan dengan melirihkan suara kecuali talbiyah“. (Ishlahul Masajid, hal. 111)
    al-Mubarokfuri mengatakan: “Ketahuilah, bahwa para pengikut madzhab hanafi di era ini, merutinkan doa dengan mengangkat tangan tiap selesai sholat fardhu seperti rutinnya mereka melakukan amalan wajib, seakan-akan mereka menganggap amalan itu suatu kewajiban, karena itulah mereka mengingkari orang yang salam dari sholat fardhu, lalu membaca wirid Allohumma antas salam, wa minkas salam, tabarokta yaa dzal jalaali wal ikroom kemudian pergi tanpa berdoa dengan mengangkat tangannya. Tindakan mereka ini, menyelisihi perkataan Imam mereka, yakni Imam Abu Hanifah, begitu pula menyelisihi apa yang ada dalam kitab-kitab yang dijadikan sandaran oleh mereka. (Tuhfatul Ahwadzi 1/246)

    • Allaah berfirman: Dan bila telah selesai dari manasik kalian, maka berdzikirlah sebagaimana dzikir kalian kepada bapak-bapak kalian atau dengan dzikir yang lebih lebih keras (au asyadda dzikraa) Surat Al Baqarah ayat 200.
      Dzikir jahr tujuannya untuk syiar Islam, bukan karena tidak didengar Allah, bila lagu-lagu maksiyat saja disyiar mengapa Al Haqq tidak ?

    • Harus dibedakan antara do’a dan dzikir, dalam surat Al A’raf 55 itu perintah bedo’a agar dibaca dengan suara rendah/siir.
      maka Dzikir dalam S. Al Baqarah ayat 200 diperintahkan supaya dibaca keras bahkan lebih keras dari pembicaraan tentang bapak-bapak mereka. Jadi kesimpulan jahr/keras bukan larangan mutlak, lihat sikonnya, selama tidak mengganggu orang lain, mungkin sedang shalat, atau sakit. Hikmah dzikir dengan suara jahr/keras – bisa untuk mendidik yang belum bisa, kedua sebagai syiar Islam, seperti takbir 2 hari raya dan bacaan talbiyah pada ibadah haji. Bila Dzikir jahr mutlak dilarang mengapa malam 2 hari raya semua umat Islam di dunia berdzikir dengan keras bahkan dengan pengeras suara, apakah Allaah tidak mendengar bacaan mereka? Dalam Kitab Hilyatul Auliya ada cerita masuk Islamnya Umar bin Khthab ra, ketika di luar Ka’bah akan mengucapkan ikrar syahadat Syahadat dihadapan Nabi saw, maka beliau menyuruh agar membaca pelan karena untuk menjaga diri dari kaum musyrikin, tetapi umar mejawab: “Rasulullah saya akan berikrar dengan jahr sebagaimana mereka jahr dengan kemusyrikan mereka.” kemudian nabi saw mempersilahkan.

    • Itu syareat ada ikhtilaf maka Islam tidak cukup hanya dengan syareat, karena syareat itu bersifat mahkum bersumber dari risalah kerasulan, Islam juga memuat ajaran hakekat (intisari kebenaran) karena haket itu bersumber dari risalah nubuwwah, tidak dicapai kecuali oarang yang dikehendaki Allah, rasul sekalipun tidak akan tahu ilmu hakekat bila tidak di beri Allah, kalau nabi bersabda tentang suatu masalah lihatlah isinya kalau masalah amalan sunnat berarti beliau bersabda dalam kapasitas beliau sebagai nabi, bila bila amalan wajib beliau berbicara sebagai seorang rasul utusan Aallah. lihat tafsir Imam Qurthuby cerita Nabi Khidzir dan Nabi Musa pada surat Al Kahfi mulai ayat 61.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s