ISTILAH HARAM DALAM ISLAM.

Syaikh Dr Yusuf Qardhawi mendefinisikan:
Haram: adalah urusan yang dilarang Syari’at untuk melakukannya, larangan yang tegas, dimana pelanggaran larangan itu sungguh akan disiksa oleh Allah di akhirat, dan terkena juga akibat syari’at di dunia. (Kitab Al Halaalu wal Haraamu fil Islam).

Macam-macam larangan.

  1. Larangan yang bersifat mutlak yaitu Al Haraamu dan An Nahyu . Istilah haram (حرام ) dalam Al Quran adalah istilah yang dikeluaran Allah SWT yang merupakan hak mutlak Allah SWT untuk mengharamkan atau menghalalkan sesuatu atas mahluknya  sehingga Nabi SAW sendiri tidak menggunakan istilah itu untuk melarang suatu hal yang tidak ada larangan dalam Al Quran. Untuk melarang dari suatu urusan Nabi SAW menggunakan istilah nahaa (نهى ).

Nabi SAW menggunakan istilah haram untuk memperjelas ketentuan Allaah yang haram,  Contoh haramnya bangkai (maitah) , nabi SAW menerangkan bahwa potongan anggota tubuh dari hewan yang masih hidup termasuk bangkai, jadi potongan tubuh itu haram. Haramnya bangkai itu berdasar ketentuan Allah , bukan ketentuan Nabi SAW. Larangan Nabi SAW atas umatnya menggunakan redaksi nahaa (melarang) yaitu larangan yang tidak terdapat dalam Al Quran, contoh : larangan memakan daging anjing, larangan bagi kaum laki-laki memakai perhiasan emas dan memakai sutera.

Hadits Nabi SAW yang menggunakan redaksi haram adalah hadits Qudsi, yaitu Firman Allah yang tidak termasuk dalam Al Quran, contoh hadits tentang pengharaman zalim (tindak aniaya), Allah berfirman: “ sungguh Aku Haramkan atas Dzatku untuk berbuat aniaya, dan Aku tentukan aniaya itu hal yang haram diantara kalian….”

  1. Larangan yang bersifat relatif berdasarkan penafsiran ayat dengan ijtihad, kemudian disepakati ulama yang disebut sebagai Ijma’, jadi tingkat larangan ini bukan bersifat haram, tetapi sebatas fatwa, anjuran. Contoh pelarangan merokok, itu berdasarkan penafsiran ayat Al Quran :

Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, Karena Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.

(Surat Al Baqarah ayat 195).

Ayat ini tidak menyebutkan redaksi pengharaman merokok, ulama hanya menganggap merokok itu menjadi sebab jatuh kedalam kebinasaan, karena itu mereka memutuskan fatwa pelarangan, bukan pengharaman. Karena haram itu  apa-apa yang disebutkan Allah dalam Kitab SuciNya secara rinci, seperti haramnya syirik, bangkai, daging babi, minuman keras, dan lain-lainnya.

Larangan yang relatif itu seperti  larangan dokter terhadap pasien yang menderita penyakit tekanan darah tinggi dimana pasien itu misalnya dilarang mengkonsumsi daging kambing yang menyebabkan peningkatan tekanan darahnya semakin tinggi yang dapat membahayakan pasien.

Bagi perokok yang sudah terbiasa merokok sejak kecil, kalau berhenti merokok  dapat menjadi sebaliknya, dapat membahayakan dirinya. Kawan Penulis bercerita bahwa ia punya saudara yang dulunya perokok berat, kemudian berhenti merokok, akhirnya terkena penyakit jantung dan meninggal dunia. Kawan  saya itu waktu bercerita juga seorang perokok, kemudian ia berhenti merokok, akhirnya sering mengalami penyakit dan akhirnya juga meninggal dunia ketika ia sudah berhenti merokok.

Karena itu larangan merokok bukanlah hal yang haram, tetapi fatwa yang sebaiknya dihindarkan bagi yang belum terbiasa, lebih utamanya pada anak-anak muda. Dan bagi yang sudah terbiasa berilah kelonggaran pada tempat khusus  untuk menikmatinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s