SULTHAN DALAM ISLAM.

Dan Katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah Aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) Aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong [Al Isra ayat 80].

Dan Katakanlah: “Yang benar Telah datang dan yang batil Telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. [Al Isra ayat 81].

Ayat di atas turun disaat Nabi dan kaum muslimin dalam kondisi terjepit, karena permusuhan mayoritas kaum kafir Quraisy, hidup dalam suasana ancaman dan kekuatiran, tetapi Allah SWT menurunkan perintah agar Nabi memohon Sulthan kepada Allah SWT, hal yang tidak masuk akal di saat seperti itu untuk memohon kekuasaan. Tetapi ayat di atas juga menjadi alamat agar Nabi berhijrah keluar dari Mekah menuju Madinah, wilayah baru yang akan menghantarkan meraih sulthan untuk menolong tersebarnya Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Sulthan ( السُّلْطَانُ ) mempunyai beberapa pengertian,  bisa berarti kekuasaan, sebagaimana firman Allah dalam surat Al Isra’ ayat 80.,  juga berarti legalitas/ legitimasi, lihat surat Yusuf ayat 40 , juga berarti dasar/ alasan lihat Surat An Naml ayat 21. bisa juga berarti kekuatan, ilmu pengetahun dan tehnologi, sebagaimana disebut dalam surat Ar Rahman ayat33, dalam istilah lain juga disebut dengan siyasah, atau taktik dan strategi atau cara untuk mencapai keberhasilan.

Bila agama Islam diumpamakan bangunan, maka sulthan adalah atapnya, karena dengan adanya atap dapat melindungi penghuninya dari panas dan hujan. Islam di Nusantara ini laksana bangunan, tetapi belum beratap yang memadai, sehingga belum dapat menyelamatkan umatnya dari berbagai persoalan hidup seperti kemiskinan, pengangguran dan bencana.

Pentingnya Politik sebagai wewenang/kekuasan.

Dalam hadits diterangkan pentingnya politik bagi tegaknya Islam, sebagaimana sabda Nabi :

اَلسُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الآرْصِ يَأْوِى إِلَيْهِ الضَّعِيْفُ وَبِهِ يَنْتَصِرُ الْمَظْلُوْمُ وَمَنْ أَكْرَمَ سُلطَانَ اللهِ فِى الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ ( ابن النجار عن ابى هريرة ) حسن جميع الصغير 38

Politik  itu naungan Allah di bumi, berlindung  kepadanya  orang-orang   yang lemah, dan ditolong dengannya orang-orang yang teraniaya, dan barang siapa memulyakan kekuasan Allah di dunia, Allah akan memulyakannya di hari kiamat. ( Hadits riwayat Ibnu Najar dari Abu Hurairah, Baik), Jami’us Shaghir halaman 38.

Dalam hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Thabrani dan Ibnu Majah, dari Abu Bakar, dari Rasulullah, beliau bersabda :

اَلسُّلْطَانُ ظِلُّ اللهِ فِي الآرْصِ فَمَنْ أَكْرَمَهُ أَكْرَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ وَمَنْ أَهَانَه‘, أَهَانَه‘اللهُ يَوْمَ الْقِيامَةِ ( جميع الصغير 34)

Kekuasaan adalah naungan Allah di bumi, maka barang siapa memulyakannya, Allah akan memulyakannya di hari kiamat, dan barang siapa menghinakan/ menyianyiakannya, Allah akan menghinakannya di hari kiamat. ( Jami’ush Shaghir 34).

Kekuasaan Allah, itu diamanatkan kepada manusia, untuk diraih, dipelihara, dan dijaga, sebagai satu-satunya sarana yag sangat strategis untuk tegaknya syariat/hukum Islam, melindungi kaum yang lemah, memelihara anak yatim, mencegah kemaksiyatan dan kemungkaran. Karena itu barang  siapa   memulyakan kekuasaan Allah sesuai dengan yang diamanatkan, Allah akan memulyakannya di hari kiamat.

Dalam hadits nabi di atas, disebutkan bahwa orang yang menghinakan atau menyia-nyiakan kekuasaan Allah, akan dihinakan Allah di hari kiamat, bermakna bahwa orang yang berjuang untuk meraih kekuasaan tetapi tidak punya kepentingan, arah dan tujuan untuk Islam, maka akan dihinakan Allah di hari kiamat.

Di zaman akhir ini, banyak manusia yang ingin meraih kekuasaan politik, tetapi tujuannya bukan untuk meninggikan kalimatullah, mereka hanya ingin mendapat posisi yang tinggi, dan terhormat, tetapi lupa kepada yang maha Tinggi,  dan kendaran yang membawanya tidak  menuju  ke arah  tegaknya hukum Islam.

Sehebat apapun janji mereka untuk memakmurkan rakyat  memerangi kemiskinan dan kebodohan, tetapi bila meninggalkan missi jihad Islam, dan mengabaikan hukum-hukum Allah, maka tidak akan mampu merubah nasib bangsa dari kemalangan dan bencana, karena nasib suatu bangsa itu tidak ditetukan oleh pemimpinnya yang tidak puya kepentingan pada agama yang diridhaiNya. Sabda nabi :

مَنْ أَصْبَحَ لآيَهْتمُُّ بِالْمُسْلِمِْنَ فَلَيْسَ مِنْهُمْ ( الحاكم عن بن مسعود صحيح) جميع الصغير 164

Barang siapa berpagi pagi, tidak mementingkan urusan kaum muslimin, maka bukanlah golongan mereka (muslim). ( Hadits riwayat Al Hakim, dari Ibnu Masud, Shahih) Jamius Shoghir 164.

Politik Sebagai Legalitas.

Politik sebagai legalitas mengandung maksud bahwa keberadaan/eksistensi dan proses perjuangan yang ditempuh oleh partai dan aktifisfnya itu syah, sesuai komitmen berbangsa dan bernegara, demikian juga kemenangan yang dicapainya sebagai pemegang otoritas, dan kemudian memiliki otoritas untuk mengesahkan suatu pruduk hukum yang bermartabat bagi kepentingan bangsa dan Negara.

Kita jangan berpikir tegaknya syareat Islam di republk ini lantas otomatis menjadi Negara Islam, bukankah selama berpuluh tahun Negara ini menggunakan hukum kolonial Belanda dan Negara kita tetap saja Negara RI tidak disebut Negara Belanda. Perjuangan syareat Islam diluar jalur politik adalah jalur organisasi social, ini bertujuan untuk meraih opini dan suara mayoritas yang diperlukan di panggung politik secara legal.

Bila kita tengok ke belakang, legalitas politik, dapat dikaji dari perjalanan sejarah para nabi dan rasul dalam mendakwahkan ajaran Islam. Nabi Musa yang lahir di Mesir pada zaman Firaun, adalah orang yang paling dicari oleh penguasa Mesir saat itu, tetapi Allah menyisipkan bayi Musa ke dalam istana kerajaan, bahkan kemudian diangkat sebagai anak oleh Firaun, maka Musa dikenal sebagai anak raja/pengeran. Allah SWT menyelamatkan Musa dari tangan  yang zalim karena tangan yang zalim  tidak akan bisa berbuat banyak bila musa sudah menjadi bahagian dari lingkungan istana, hal ini dapat menepis isu-isu negatif tentang keberadaan Musa yang telah diangkat sebagai anak raja. Di sisi lain, dengan legalitas sebagai Pangeran itu pula Allah akan mengutus Musa di masa yang akan datang sebagai seorang rasul untuk mengingatkan Firaun dan bangsa Mesir agar bertauhid dan menyembah Allah.

Legalitas  yang dicapai nabi Muammad saw adalah beliau lahir dari keturunan bangsawan Quraisy yang dihormati, kakek beiau adalahpemegang kunci Ka’bah, beliau menjadi nabi karena menerima wahyu dari Allah, apa yag beliau dakwahkan diikuti oleh  sebagian petinggi Quraisy yang di hormati.

Legalitas Nabi di Madinah dimulai dengan datangnya 2 suku Aus dan Khazraj dari Yatsrib, yang menyatakan keimanannya, kemudian mereka berbaiat kepada nabi untuk membela perjungannya. Sesudah nabi hijrah ke Madinah berhasil mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar dan mempersatukanmasyarakat Madinah dengan suatu piagam yang dikenal sebagai piagam Madinah.

Merujuk peristiwa tarih  yang demikian itu, menunjukkan bahwa, perjuangan politik demi tegaknya Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang paling tepat adalah melalui partai politik, yang memiliki azas legalitas, dan  secara syah diakui  oleh pemerintah dan mendapat kepercayaan masyarakat.

Dalam konteks kekuasaan ada 3 cara yang dapat berhasil mencapai kekuasaan dan menerapkan aturan serta mengontrolnya, pertama melalui jalan damai, dengan cara dakwah pada penguasa/raja, melalui perdagangan dan mengikat hubungan yang kuat dengan perkawinan, ini terjadi di Nusantara sebelum datangnya kaum penjajah. Kedua melalui peperangan, hal ini banyak dilakukan dalam pengembangan Islam ke luar Jazirah Arab hingga masuk Andalusia. Ketiga memalui perjuangan politik yang dapat dicapai secara demokratis.

Tidak berlebihan kiranya bila kita punya harapan meraih kemenangan, karena dimasa yang lalu, pada era pemeritahan Sukarno, Umat Islam pernah hampir memenangkan perjuangan politik melalui wakil rakyat di lembaga legislatif, dimana saat itu partai/ Majlis Syura Muslimin Indonesia memiliki kursi yang seimbang dengan kekuatan partai nasionalis sekuler.

Hanya sedikit kekurang sabaran pemimpinnya saja bisa merubah haluan dari perjungan politik ke perjuangan bersenjata, hingga munculah Darul Islam yang dipimpin Karto Suwiryo, dan gerakan bersenjata lainnya. Hingga gelanggang perjungan politik yang diperjuangkan oleh partai Islam mengalami kemunduran hingga sekarang.

Pemikiran yang menyatakan “politik no, Islam yes.” Adalah pernyataan yang tidak berdasar, yang dihembuskan oleh orang-orang yang takut terhadap kemenangan Islam melalui perjuangan yang demokratis dan legal. Jadi dalam setiap pemilu selama masih ada Partai Islam yang bertujuan untuk menegakkan syariat Islam kemudian umat Islam bersikap golput itu berarti menyia-nyiakan politik dan akan terkena akibat yaitu disia-siakan Allah sebagaimana sabda Nabi SAW :

Sulthan (politik) adalah naungan Allah di bumi, maka barangsiapa memuliakan politik, Allah akan memulyakannya dan siapa menghinakan politik Allaah akan menghinakannya. (Hadits Riwayat : Thabrani dan Ibnu Majah dari Abu Bakar Hadits Shohih, Jami’us Shoghir hal 38).

Isu-isu yang dikembangkan diluar Islam bertujun untuk menggemboskan agar Islam dan umat Islam steril dari gerakan perjuangan politik, sehingga Islam akan menjadi agama marginal di negeri yang nota bene mayoritas rakyatya beragama Islam. Hal ini dapat dirasakan, bila dimasa yang lalu mesjid itu menjadi markas perjuangan dan pengkaderan calon pemimpin bangsa, maka  masjid  sekarang hanya berfungsi sebagai tempat ritual saja.

Di masa  yang  lalu,  khatib berceramah tentang politik dan perjuangan Islam, sekarang mubaligh hanya berbicara soal-soal muammalah, dan menghindari pembicaraan soal politik, karena takut dianggap memecah belah umat, atau kuatir tidak dipakai lagi. Mubaligh sudah tidak bisa bebas menyampaikan pesan pesan Islam tentang politik sebagaimana dicontohkan rasulNya, yaitu menyampaikan kebenaran dalam segala segi kehidupan termasuk politik.

Kemenangan politik partai Islam bisa diraih secara demokratis, hal ini bergantung pada umat Islam sendiri bila kaum muslimin di negeri ini berkemauan dan bersatu mendukung    partai Islam hingga mampu memperleh suara  mayoritas jelas akan menempatkan Islam sebagai acuan sekalipun tidak letterleks, untuk menata kehidupan bermasyarakat dan berbangsa secara arif dan bijaksana, karena itu jaminnya adalah surga. Ini adalah pemikiran rasional dan praktis.

Sulthan/Politik digambarkan sebagai pedang, karena otoritas dan kekuasaan yang di pegangnya.  Dalam  hadits, Nabi bersabda :

ألْجَنَّةُ تَحْتَ ظِلآلِ السُّيُوْفِ ( واه الحاكم عن أبي موسى) جميع الصغير 145

Surga itu ada di bawah naungan pedang-pedang (Hr. Al Hakim, dari Abi Musa)

Hingga masa kini hadits itu tetap relevan, karena makna pedang itu politik/kekuasaan, bila perjuangan partai politik itu untuk menolong tegaknya moral bangsa dan mencegah segala kemungkaran dan kemaksiyatan.

Ilustrasi pedang, bermakna bila pedang itu dipegang oleh tangan kotor, jahat dan zhalim maka akan digunakan berbuat aniaya, bila pedang itu dipegang orang yang shaleh dan santun, maka pedang itu tidak akan digunakan kecuali dalam kontek yang baik dan benar. Jadi jangan salahkan pedang, tetapi salahkanlah siapa yang memegang pedang itu.

Demikian pula dengan politik, bila politik itu kotor, jangan salahkan politik, tetapi salahkanlah siapa yang memegang politik, bila kekuasaan/politik dipegang oleh wakil rakyat yang terikat dengan komitmen partai bervisi dan missi Islam, maka barakah langit dan bumi akan dibukakan Allah, negeri itu menjadi negeri yang gemah ripah  loh jinawi dalam ridha Ilahi. Kekuatiran diluar Islam terhadap kemenangan politik yang dapat dicapai partai Islam tidak beralasan, karena umat Islam itu memiliki toleransi yang tinggi terhadap pemeluk agama lainnya, bagaimana tidak, karena sekalipun umat agama lain itu minoritas, bisa hidup damai di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas muslim, dan ia berhak menjalankan keyakinanya.

Allh SWT berfirman :

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.  (Surat Al Baqarah ayat 256.).

Dengan demikian tidak ada alasan untuk kuatir terhadap kekuasaan Islam yang dicapai dengan perjuangan politik, karena Islam tetap menghormati keyakinan dan agama di luar Islam, sebagaimana firman Allah tersebut di atas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s