ISLAM DAN KEMANUSIAAN

Dari solusi  Islam kepada solusi kemanusiaan yang diterima Islam
Sabtu, 10 April 2010

Mu’taz Billah  Abdul Fattah *

Direktur Unit Kajian Islam dan politik di University of Central Michigan di Amerika Serikat

Beberapa Muslim mengira  berdasarkan suatu kebanggaan yang paradoks pada Islam dan kebodohan  dengan metodenya, sesungguhnya di situ «Islam» yang unik dapat untuk menyelesaikan semua masalah masyarakat secara terpisah dari apa yang diciptakan oleh peradaban non-Muslim  lainnya, misalnya, sebagian orang percaya bahwa ada cara Islami untuk memecahkan masalah pengelolaan urusan Negara,  pengangguran, kelaparan, kejahatan terorganisir, dan ada perkembangan iman. cara berpikir seperti itu  banyak mengandung emosi lebih banyak dari apa yang dapat mereka tangani untuk melihat kebutuhan manusia dalam berinteraksi   dan saling belajar. Slogan «Islam adalah» solusi seperti ungkapan:di dalam laut adalah harta kekayaan, atau:  bumi adalah harta yang baik.

Secara teori saya berpikir bahwa seorang muslim menggunakan kata «Islami» berarti da tiga hal. Pertama «Islam» dalam arti diciptakan untuk contoh yang belum ada sebelumnya, dan itu adalah lingkaran berat lagi sempit tidak membangkitkan untuk kemajuan  rakyat. Atau arti Islami kedua yaitu bahwa amal usaha yang baik yang ada sebelum Islam ditegakkan beramal usaha tanpa inovasi, lingkaran yang jauh lebih luas daripada lingkaran pertama. Atau ke 3 «Islam» berarti tidak bertentangan dengan apa yang  ditentukan oleh prinsip-prinsip Islam, sebuah lingkaran yang lebih luas dibandingkan dengan dua sebelumnya dan lebih lebar dengan pengembangan intelektual dan teknologi di mana kita hidup.

Untuk makna pertama dari «Islami» menerima apapun yang ditetapkan Islam tanpa-reverse seperti pada permulaan Islam  dan menolak perkembangan teknologi  adalah kelemahan dan aib bagi Islam, dan fakta pencapaian peradaban kontemporer oleh  Islam adalah karena Syariah yang diucapkan secara lantang dan di bawah  kontradiksi dengan Islam. Muslim tahu bahwa sebagian besar masuk akal, bahwa apa yang  dibawa oleh Islam bukan inovasinya tetapi merupakan kelanjutan dari apa yang sudah diamalkan pendahulunya. Kita tahu kuwajiban puasa yang telah diwajibkan pada orang-orang sebelum kita, demikian juga solat, jihad,  poligami syaratnya keadilan … Dan sebagainya. Hingga akidah tauhid sejak Nabi Adam as dan penamaan Islam sendiri oleh Nabi Ibrahim as, yang menyebut kita dengan kata: Muslim. Tetapi tidak diragukan, bahwa kaifiah shalat, rincian wudhu, haji dan  sangsi hukum  syariat,  rincian ini tidak ada contoh pada Islam  sebelumnya.

Dan Islam telah menolak membatasi logika  dan solusi Islam dalam batas-batas yang sesuai dengani nash/teks  Quran dan Sunnah. Nabi saw bersabda kepada salah seorang shahabatnya: «Jika orang-orang mengepungmu untuk mencampakkanmu dari hukum Allah maka jangan kamu campakkan hukum Allah, tetapi bawalah mereka pada keputusanmu, kamu tidak tahu apakah dia itu termasuk orang terkena azab Allah atau bukan», HR. Muslim.

Jika Anda tidak tahu hukum Allah dan RasulNya  dalam hal pemerintahan dan politik, tetapi Anda telah bekerja, dan  ketekunan Anda sesuai dengan Islam yang benar atau bertentangan kepadanya oleh kenyataan bahwa manusia tidak mampu menerimanya, tapi berpikir bahwa mereka akan dapat memahami apa yang kehendaki Allah. Maka bagaimana manusia dapat mengkaitkan dirinya bahwa ia tahu »« solusi Islami atau batas diluar Islam dalam urusan yang ditekuni dan missi perbaikan ?

Dan ini adalah Abu Wafa bin Aqil al-Hanbali, ia mengerti politik yang sesuai syareat «ia adalah orang yang bekerja bersama orang-orang yang dekat dengan kesalehan  dan jauh dari korup,  bila Nabi saw tidak meletakkan suatu urusan atau tidak ada ketentuan Wahyu», menurut  Syafi’i : «Tidak ada kebijakan kecuali  yang sesuai dengan syareat Islam »,   Aqil berkata:« Jika kamu hendak mengatakan  dengan ucapanmu  yang sesuai syareat Islam atau tidak bertentangan  maka bicaralah yang benar, jika kamu tidak ingin politik kecuali apa yang terucap oleh Syariat kemudian terjadi kesalahan dan penolakan terhadap para sahabat telah menjalankan tugas khalifah yang arif bijaksana yang tidak dibantah keilmuannya dalam malah sunnah.

Jika yang Anda maksud bahwa «Islam adalah» solusi dalam arti solusi yang diucapkan oleh Islam maka hal itu adalah kesalahan karena harapan Muslim untuk tidak menambah atau mengurangi  nash/teks-teks hukum Syariah, tetapi malah sebaliknya,  seperti kata Ibnu Aqil, bahwa para khalifah yang melakukan inovasi  tidak bisa disalahkan, termasuk  Abu Bakar yang memerangi kaum murtad meskipun mereka mengucapkan dua kalimat syahadat, hal yang bertentangan dengan perintah Nabi saw yang tidak memperbolehkan memerangi orang yang mengucapkan kedua kalimat syahadat itu, dan Umar yang memerintahkan shalat tahajjud secara berjama’ah dan Nashar bin Hajjad yang mengajak pembagian lahan yang berhasil direbut dari musuh atas dasar yang tercantum dalam ayat-ayat Surat al-Hashr, meskipun kejelasan nash/teks tentang rampasan perang terdapat dalam surat Al-Anfal, Usma bin Affan yang mengumpulkan Quran yang tidak dilakukan pada masa hidup Nabi saw, dan pembakaran kaum bidah di dalam parit, meskipun itu cara yang dilarang dalam pelaksanaan hukuman mati, tetapi dalam kumpulan perkataan Nabi saw mengucapkan hal itu dalam buku-buku Sunan, meskipun tidak dilakukan.

Wilayah yang diciptakan Islam tanpa contoh sebelumnya sangat sempit hingga dalam urusan muammalah/transaksi, kita ambil contoh konsep Syura «Islam» yang diajukan sebagai alternative pengganti terhadap system demokrasi yang diimpor dari barat. Kita tahu dengan pasti bahwa  Qushay bin Kilab adalah kakek kelima dari Nabi Muhammad saw yang menciptakan Darun Nadwah {House Seminar) untuk bermusyawarah bagi kaum Quraisy dalam urusan mereka. Kita juga tahu dengan pasti bahwa Nabi (saw) datang selama periode terputusnya nabi dan rasul kepada kaum yang memusuhinya sebagai pemberi peringatan dengan demikian tidak mungkin Darun Nadwah  mau menerima dan menanggapi seruan iman itu.

Kita juga tahu bahwa Ratu Bilkis dari Shaba yang mau menerima dakwah Nabi Sulaiman untuk berserah diri kepada AllahTuhan semesta alam yang memutuskan urusan hingga bersaksi  (yang menunjukkan singgasananya) yang dipindahkan orang-orang ahli ilmu dan ahli pikir dalam kerajaan. Ini berarti bahwa Syura «Islam» adalah asimilasi, bukan ciptaan baru dan konstruksi.  jika Nabi saw hidup di zaman yang bukan zamanya, atau mengetahui bangsa Arab dengan mekanisme demokrasi kesukuan (etnis) yang kuno mungkin akan menerangkan kepada kita dengan rinci apa yang tersebut dalam Al-Quran. Hal ini tidak mengherankan bila kaum Muslim awal mengetahui bahwa mereka memiliki kitab  yang berisi segala masalah yang umum yang membimbing dengan pendekatan komprehensif maka Allah berfirman «Kami tidak lalai dalam kitab ini sedikitpun » dan juga : «bertanyalah kepada Ahli dzikri  jika kalian tidak tahu» maka tidak akan faham ayat pertama kecuali bila dalam kerangka  memahami ayat kedua.

Bila  ada ayat pertama dari kitab Allah membahas masalah kimia jangan diasumsikan Kitabullah itu sebagai buku kimia, demikian juga bila tersebut tentang olah raga, kemudian dikatakan bahwa  Kitabullah itu buku olah raga dan sebagainya. Ini tidak benar. Al Quran Ini adalah Kitab masalah Iman dan Etika dasar. Dan selain dari dua hal ini, adalah segala sesuatu yang bisa menjadi bahan kajian sebagaimana kita disuruh bertanya kepada Ahlu Dzikri tentang suatu dari segi  manfaat dan bahaya (madharatnya), seperti halalnya «makanan ahli kitab » halal dimakan dengan cara kita bacakan basmalah. Oleh karena itu, tidak ada perbedaan jika Anda makan pizza Arab berisi  daging atau pizza Italia selama tidak ada unsur yang  diharamkan Allah sebagaimana kata Syaikh Muhammad al-Ghazali rahmat Allah. Adapun makanan seperti 2 hal itu «Islami» karena tidak bertentangan dengan apa yang pasti, tegas, signifikan sesuai dengan teks-teks Islam.

Oleh karena itu, umat Islam tidak mempertanyakan bagaimana cara Islam menggali parit sebagai alternative pengganti cara Persia yang idea siasat parit itu dari Salman seorang  Persia. Muslim awal tidak menolak naik unta karena naik unta itu tidak Islami. Tidak mencari metode lain selain metode syura  yang dilakukan lebih dahulu oleh non-Muslim . Bahwa solusi apapun untuk memecahkan masalah ini adalah tidak kompatibel dengan iman dan etika Islam.

Dan Ini benar bahwa Ibn Rusyd menulis dalam buku-buku orang-orang ahli bathil asalkan tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip agama iman atau moral. Akankah kita menolak demokrasi, yang member kebebasan, menjamin adanya pusat pengambilan keputusan, adanya transfer kekuasaan secara damai hanya karena kata itu tidak terdaftar sebagai ayat dan tidak detail dalam Alquran? Jawaban Tentu saja tidak. Krena setiap hal baik yang akan memberikan keadilan bagi masyarakat itu adalah  Islam, bahkan jika tidak dibawa oleh utusan atau diucapkan oleh wahyu  sebagaimana dikatakan oleh Ibn al-Qayyim rahimahumullah.

Karena itu, tidak benar bila Islam adalah solusi atau bahwa ada solusi didasarkan pada teks Islam. Namun, ada solusi manusiawi yang diterima Islam dan  kemudian itu adalah dari Islam. Berdasarkan ini, saya menolak atas dasar agama dan filsafat, bukan hanya slogan politik seperti «Islam adalah» solusi atau «» solusi Islam. Atau solusi yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Sunnah, Islami, bahwa memecahkan masalah yang kita hadapi adalah dari Islam, dan mungkin solusi Islam berada di lidah seorang  liberal atau Marxis atau Nasrani. Bukankah Nabi saw mengucapkan syair dari penyair «Labid» (segala sesuatu yang kosong dari Allah itu bathil) syair itu terbaik yang diucapkan oleh penyair, meskipun bukan seorang Muslim. Maka setiap solusi  bersama orang-orang yang dekat dengan kebaikan dan keadilan itu adalah dari Islam meskipun tidak diucapkan oleh Nabi Besar saw atau tidak secara eksplisit dinyatakan dalam Al Qur’an. Ini berbicara tentang masa lalu, tapi harus menjadi bagian dari masa depan.
Source: Daarul Hayat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s