PENGUASA VS GERAKAN ISLAM

DR. Rafiq Habib.

Berbeda posisi elite Pemerintah di Negara Arab dan Islam dengan posisi elit Pemerintah dalam Negara terhadap Gerakan Islam. Posisi ini ditentukan berdasarkan sifat negara dalam menghadapi  sifat gerakan Islam, Posisi elite pemerintah ditentukan berdasarkan proyek kekuasaan. Adapun gerakan Islam semacam gerakan massa yang dalam pelaksanaannya bernuansa politik dan memiliki sandaran massa pendukung, dan itu berarti oposisi terhadap elite penguasa. Dan elit Penguasa melihat bahwa gerakan massa itu sebagai alternative penggati  dengan sifatnya yang memungkinkan,  dan saat ini telah ada   tuntutan untuk pemerintahan, atas dasar dukungan rakyat dan sudah dinikmati oleh gerakan Islam.

Sistem politik yang ada di negara-negara Arab dan Islam, mulai dari pemerintahan otokratis, berdasarkan keunikan elite dari satu pemerintah, dan sistem demokrasi yang dikendalikan, dimana elit tertentu bertukar untuk berkuasa, melalui kompetisi terbatas di antara berbagai partai politik. Dalam semua kasus ini, pintu bagi partisipasi Islam tidak terbuka untuk kompetisi politik secara bebas. Dalam sistem berdasarkan penindasan lenkap, gerakan Islam tidak diizinkan memasuki persaingan bebas untuk meraih kekuasaan, tetapi diizinkan bagi partai yang beroperasi dalam bentuk demokrasi palsu, tapi kekuatan Islam tidak diizinkan beroperasi, hingga masuk dalam syatem demokrasi palsu ini.

Di negara-negara yang diizinkan demokrasi terbatas, ruang terbuka bagi partisipasi partai-partai Islam dalam proses demokrasi, dan memungkinkan juga memiliki aliansi dengan rezim berkuasa, tapi tetap dilarang secara diam-diam untuk berkuasa sendiri, juga dilarang mempengaruhi  langsung terhadap jalannya proses politik, terlepas dari tingkat partisipasinya.

Ringkasnya masalah, bahwa para elit penguasa di Arab dan negara-negara Muslim, bekerja untuk mencegah masuknya gerakan Islam ke tampuk kekuasaan, apakah dalam sistem tirani penuh, atau dalam kasus demokrasi terbatas. Bahkan dalam demokrasi yang relatif bebas di Turki, yang memungkinkan Partai Islamis untuk mencapai kekuasaan, maka tentara turun tangan untuk menggulingkan partai yang berkuasa, seperti yang terjadi dengan Partai Kesejahteraan Islam yang tidak diperbolehkan untuk mencapai kekuasaan dan memegang kekuasaan di sana, seperti yang terjadi dengan Partai Keadilan dan Pembangunan Turki, yang diperbolehkan memegang kekuasaan setelah partai itu menawarkan Pemerintahan yang berkeadilan dan pembangunan yaitu program Turki sekuler untuk mengganti programnya yang Islami, yang bekerja untuk melindungi negara Turki sekuler.
Hal ini tampak  bahwa kondisi Negara Arab dan Islam menunjukkan adanya  kekuasaan yang kuat yang mengaturnya, tidak hanya terdiri dari orang-orang pemerintah, tetapi juga terdiri dari negarawan dan militer. Oleh karena itu   elit tetap memiliki gaya menetapkan keputusan akhir, meskipun terjadi  perubahan partai yang berkuasa.

Dari apa yang dirangkum, tampak saat ini dalam bentuk politik status quo, yang didominasi oleh elit yang berkuasa dan kelas penguasa, yang berusaha mencegah perubahan radikal di dalamnya dimana Elite penguasa berdiri untuk memaksa di depan program Islami, yang disikapi sebagai sebuah proyek yang akan mengubah dan mengancam status quo.

Maka apakah elite penguasa itu bertahan untuk hidup dalam kekuasaan, atau mempertahankan visi intelektualnya? Dan mengapa elite penguasa menganggap  gerakan-gerakan Islam itu secara implicit sebagai ancaman ? Apakah bertujuan elite penguasa  menumpas Gerakan Islam, atau mengandung maksud untuk mempekerjakan mereka bagi kepentingan partai yang berkuasa, dan memperbaikinya? Pertanyaan-pertanyaan ini pada kenyataannya berkisar pada posisi elit penguasa, yang menentukan bentuk konfrontasi antara mereka dan masa depan gerakan Islam, serta menjelaskan alasan konfrontasi pada dekade terakhir.

Usaha untuk integrasi penuh

Ketika bangkit gerakan tentara di Mesir pada tahun 1952, dipimpin oleh Perwira bebas  dengan dukungan dari Ikwanul Muslimin (Persaudaraan Muslim), dimulailah sesudahnya, fase pembangunan sistem baru. Pada saat itu, Perwira bebas menghadap Presiden Gamal Abdel Nasser, untuk mengintegrasikan Ikhwanul Muslimin dalam struktur organisasi politik baru, yang merupakan gerakan kebebasan, yaitu semacam Dewan Editorial. Tujuannya adalah untuk mempertahankan satu sytem politik, diikuti oleh elit yang berkuasa, dan sepeti bersandar kepada bangsa setelah penghapusan partai politik lainnya. Maka terbentuklah elit baru yang lahir untuk meraih cita-cita, sejak awal mula mereka tidak dipersiapkan , karena harus ada mitra dalam proses politik, tapi saya pikir proses politik adalah proses membangun negara yang kuat yang dikendalikan oleh elit yang kuat. Jadi tidak mungkin bisa diharapkan hidup dengan orang revolusi dari organisasi kebangsaan yang memiliki kemerdekaan dan terkenal kekuatannya, dan yang menjadikannya sandaran kebangsaan  pada awal gerakan tentara.

Di sini nampak paradox, pertama karena gerakan militer telah berdiri bersandar pada kekuatan gerakan Islam yang terkenal, tapi prioritas pertama adalah menyingkirkan gerakan Islam, untuk membangun sebuah gerakan politik baru yang didukung  elite penguasa. Bukan seperti persepsi Gamal Abdel Nasser, sebuah organisasi politik Islam, sebagai alternatif untuk pengganti  Ikhwanul Muslimin, tapi ia ingin membangun sebuah lembaga politik dengan draft yang dibawa Perwira Bebas, dan bukan proyek Ikhwanul Muslimin, dan ingin mengintegrasikan Ikhwanul Muslimin dalam proyek ini. Melalui proses pembongkaran dan penataan, pembongkaran organisasi kelompok, kemudian menggabungkan individu-individu dalam organisasi baru.

Di sini elit penguasa ingin yang baru, memanfaatkan kemampuan organisasi rakyat untuk mendirikan organisasinya yang dinyatakan sebagai organisasi kerakyatan, dan tidak mencerminkan ide Ikhwanul Muslimin. Tampak jelas bahwa elite penguasa menggunakan ide baru yang lain, dan tidak menginginkan ide yang dimiliki dan diperjuangkan  Islam, meskipun di antara mereka semua ada link perjuangan ide, seperti afiliasi dari pemimpin tentara itu sendiri, yakni, Gamal Abdel Nasser dari sayap militer Ikhwanul Muslimin, tapi bangunan gerakan Perwira bebas dari sayap militer untuk kelompoknya sendiri. Jadi para perwira bebas ingin menjadikan orang orang dari gerakan Ikhwanul Muslimin orang dengan system baru, untuk menjadi Dewan Editorial menyelenggarakan penggantian yang sah. Tentu saja upaya integrasi kelompok secara penuh itu gagal, karena kelompok itu menolak.

Setelah itu mulailah  konfrontasi terus-menerus antara rezim pemerintah dan organisasi Ikhwanul Muslimin, yang tenang beberapa kali lalu kembali lagi. Pengalaman menunjukkan bahwa penolakan oleh elite penguasa di Mesir,  diwarisi sejak revolusi Juli 1952, karena usaha gerakan Islam di bidang politik dalam segala bentuknya, bahkan elite sudah memusuhi setiap Gerakan Islam.

Model hidup berdampingan

Seperti pengalaman Ikhwanul Muslimin di Yordania, model hidup berdampingan antara gerakan Islam dan sistem monarki. Namun, koeksistensi ini tidak didasarkan pada kompetisi politik bebas, atau pengalihan kekuasaan damai, tetapi semacam pembagian kerja. Memungkinkan dari gerakan Islam untuk melakukan bagiannya, sosial dan advokasi, juga memungkinkan adanya tindakan politik, untuk menjadi kekuatan oposisi atau kekuatan pendukung pemerintah, tanpa target meraih kekuasaan, atau memungkinkan untuk mengubah arah pemerintahan, atau memaksakan aturan melalui tekanan publik . Model ini merupakan koeksistensi pasif. Kerena itu ia keberadaannya berdifat kooperatif tidak didasarkan pada persaingan bebas, tidak didasarkan pada kebebasan tindakan politik, tetapi gerakannya didasarkan pada ketentuan wilayah gerakan Islami, dan tetap menjadi elite penguasa dominan, serta ikut dalam semua keputusan penting, sehingga melanjutkan kebijakan rezim, tanpa ada kemampuan Gerakan Islam untuk mempengaruhinya.

Mungkin model ini membantu tegaknya system monarki, yang didasarkan pada  tradisi dan kaitan keluarga, yang membuatnya bertahan pada struktur social tradisional yang dimasuki oleh gerakan Islam dalam struktur ini, sebagai komponen masyarakat, dan berurusan dengan mereka atas dasar kepentingan dalam menjaga komponen sosial masyarakat, dengan keunikannya dan berakhir pada kekuasaan.

Asimilasi dan hidup berdampingan

Berbeda masalah di Kerajaan Saudi Arabia, yang terutama didasarkan pada legitimasi Syareat Islam, dan Islam mengadopsi visi  tertentu dan menarik pada sisi Islam dengan bentuk yang khas. Dalam situasi demikian tidak memungkinkan adanya organisasi-organisasi Politik Islam Saudi yang beroperasi, dan tidak ada konflik yang masuk ke dalam organisasi damai, tetapi diperbolehkan adanya tren dan sekolah, dan membiarkan keberadaan pemikiran Islam dan membuka pintu pemikiran lebar-lebar. Tapi, tentu saja, akan berdiri di depan kekuatan bersenjata dari kerajaan. Namun arus pelaku Islam aktif dalam Kerajaan, tidak mempunyai peran politik, meskipun ada konvergensi besar antara beberapa ide dan prinsip-prinsip yang ditegakkan oleh kerajaan.

Lalu bertemu dengan permusuhan

Seperti sejarah berdirinya gerakan Fatah sebagai model gerakan yang penting, itu adalah gerakan yang didirikan dengan dukungan dari Ikhwanul Muslimin, dan melalui beberapa pemimpin yang meninggalkan kelompok dan berpartisipasi dalam pembangunan gerakan Fatah. Dan itulah awal mula kejadian seperti awal Gerakan Perwira Bebas di Mesir, meskipun ada beberapa perbedaan. Tapi Fatah masuk dalam program perjuangan, dan perjalannya dipimpin oleh Ikhwanul Muslimin dan menunjukkan batas yang tegas antara keorganisasian, tetapi tetap di bawah konsep pembebasan nasional yang terkait di antara mereka. Dan berlangsung dalam beberapa tahap, dengan keunikan masing-masing, tapi  perjalanan itu akhirnya berubah menjadi tahap pertentangan penuh, yang muncul sebagai Fatah dengan draft perjuangan nasional, dan kelanjutan dari perwakilan Ikhwanul Muslimin dalam Hamas sebagai gerakan jihad. Meskipun kami di sini untuk tidak membahas elite penguasa, namun perjanjian Oslo memungkinkan pembentukan gubernur dari elite penguasa Palestina, dan terdengar elit itu dari gerakan Fatah, kemudian mulai melacak kekuatan untuk menyerang pihak keamanan dari gerakan Hamas, sejak zaman Presiden Yasser Arafat, dan masalah ini telah berkembang selama pemerintahan Mahmoud Abbas, Abu Mazen, menjadi sebuah perang antara elit Palestina yang mendukung penyelesaian rancangan, dan gerakan jihad yang diperankan oleh Hamas dan Jihad Islam. Hal itu berakhir dalam konflik langsung, meskipun negara belum berdiri, karena tidak ada arti kekuasaan sebelum terwujudnya negara.

Akses ke kekuasaan

Seperti model Turki merupakan situasi yang memungkinkan Islam untuk akses ke kekuasaan. Hal ini dicapai oleh Najamudin  Erbakan dengan Partai Kesejahteraan tetapi tentara mampu menyingkirkan dengan  melempar tuduhan kepada Partai Kesejahteraan Islam, dan mengeluarkan dari daerah kekuasaan. Sebelum partai Islam berkuasa, Kehakiman dan Militer Turki mengadakan pertemuan yang memberi syarat boleh memegang kekuasaan asalkan sepakat atas dasar sekularisme. Situasi itu sebenarnya peristiwa penting, karena ada elite yang masih mendominasi tentara dan peradilan, negara dan universitas, dan elit yang menempatkan sekularisme sebagai alat mencapai kekuasaan, maka jadilah kaum Muslim menerima syarat sekularisme, dengan syarat lain, termasuk menjaga hubungan dengan negara-negara Barat dan  Israel, dan elit itu tetap berkuasa. Tentu saja, ini adalah privasi negara Turki, tetapi mereka bergantung terutama pada elit militer dalam pembangunan bangsa dan membiarkan kewenangan yang luas untuk mengubah elit politik.

Mengapa Demikian?

Mengapa elite penguasa tidak suka kepada proyek Islami? Mengapa dalam pemerintahan tidak didasarkan pada proyek Islam, meskipun Popular? Jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan ini terletak pada posisi politik para elit yang berkuasa. Telah menunjukkan bahwa orang-orang elit merupakan hasil dari proyek negara yang dibangun oleh kolonialisme, dan bahwa mimpi itu terkait dengan pembangunan kembali sebuah bangsa dari kolonialisme secara independen, dan kemudian untuk mencapai kebebasan dari pendudukan militer. Dan orang-orang elit tidak berpikir untuk mengubah model negara yang dibangun oleh kolonialisme. Jadi anak dari Negara penjajah, tapi tetap mempertahankan dasar yang didirikan oleh penjajah.

Mata elite penguasa sejak pertengahan abad kedua puluh, selalu melirik ke arah Barat, mencoba menilai Negara dan bangsa yang modern, pada model yang dikembangkan negara Barat. Kekuasaan Kolonial telah pergi dari tanah jajahan, tapi meninggalkan mimpi yang diinginkan. Sebagai negara dibebaskan dari penjajahan militer langsung, semakin besar perhatian pada model, yang diwakili oleh penjajah, sebagai bentuk yang kuat dan maju.

Namun itu tidak semua masalah, karena semua gerakan pembebasan nasional bertaruh pada dukungan dari luar negeri, dan memainkan perang dingin bilateral, dan sebelum itu dimainkan beberapa pergeseran kekuasaan antara matahari terbenam dan matahari terbit British American. Dan dukungan Barat terus berlanjut ksrena dibutuhkan. Saya telah membangun elite penguasa berdasarkan negara-bangsa yang dibangun oleh kolonial , dan mereka menganggap sebagai model Barat yang maju, dan juga menganggap bahwa dukungan Barat adalah hal yang penting untuk menuju masyarakat modern.

Ini bukan hanya keyakinan intelektual dalam hal apapun, bukan kecenderungan pada orientasi demokrasi liberal, atau berhadapan dengan system demokrasi, para elite tidak percaya pada intelektuslitas Barat sebagai model, namun gagasan tentang negara modern dijsmin, tanpa kerangka kekuasaan intelektual dan politik. Jadi elit mengatur negara tetapi tidak tahu liberal, bahkan tidak tahu referensi intelektual tertentu, sehingga mudah berbelok haluandari satu sistem ke sistem lain, seperti mereka tidak mendefinisikan demokrasi atau pluralisme. Apakah harus membangun negara, dan Negara diatur oleh , dan kita mempertahankan hubungan yang kuat dengan Barat, dan mengikuti pendekatan barat dalam membangun sebuah negara modern.

Itulah permulaannya, dan yang mengarah kepada tegaknya sistem negara tetapi tidak tahu pluralisme, tapi mereka tahu kekuasaan absolut, tetapi tidak menerima sirkulasi kekuasaan, tapi mapu membatasi Penguasa pada elit Negara yang dominan. Sebaliknya, gerakan Islam menjanjikan model lain negara, menyerukan kemerdekaan penuh peradaban, dan menyerukan kemerdekaan dari Barat, dan tidak mengikuti model warisan politik atau budaya. Dan untuk terkenalnya gerakan Islamis itu karena berasal dari kekuatan rakyat, berbeda dengankekuatan elit yang diambil dari negara. Dan dengan dua model tidak cocok, elite dominan atas Negara dan gerakan rakyat Islam .

Menjadi elite penguasa di dunia Arab dan Islam kebanyakan, mencoba untuk menyingkirkan Gerakan Islam, jika diperlukan dan tak terelakkan, dan mereka mencoba sedapat mungkin untuk menerima kehadiran mereka, tetapi dalam semua kasus, jarak sepenuhnya ke ranah politik, dan untuk mencegah dampaknya pada obyek politik.

Peneliti Mesir

One thought on “PENGUASA VS GERAKAN ISLAM

  1. Bismillahir Rahmanir Rahiim
    Dengan Memohon Perlindungan dan Izin
    Kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta’ala,
    Rabb Pemelihara dan Penguasa Manusia,
    Raja Manusia yang Berhak Disembah Manusia.
    Rabb Pemilik Tentara Langit dan Tentara Bumi

    Pada Hari Ini : Yaumul Jum’ah 6 Jumadil Akhir 1436H
    Markas Besar Angkatan Perang
    Khilafah Islam
    Ad Daulatul Islamiyah Melayu

    Mengeluarkan Pengumuman kepada
    Seluruh Ummat Islam (Bangsa Islam) diseluruh Dunia

    PENGUMUMAN DEKLARASI PERANG SEMESTA
    Terhadap Seluruh Negara yang Tidak
    Menggunakan Hukum Berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah Rasulullah SAW.
    Perang Penegakkan Dinuel Islam ini Berlaku disemua Pelosok Dunia.

    MULAI HARI INI
    YAUMUL JUM’AH 6 JUMADIL AKHIR 1436H
    BERLAKULAH PERANG AGAMA
    BERLAKULAH PERANG DINUL ISLAM DAN DINUL BATHIL
    BERLAKULAH HUKUM PERANG ISLAM DI SELURUH DUNIA
    MEMBUNUH DAN TERBUNUH FI SABILILLAH

    “Apabila sudah habis bulan-bulan haram itu, maka BUNUHLAH orang-orang musyrikin itu di mana saja kamu jumpai mereka, tangkaplah mereka, tawanlah mereka, dan intailah di tempat pengintaian. Jika mereka bertaubat dan mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka berilah kebebasan kepada mereka untuk berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
    (QS. Al-Taubah [9]: 5

    “Dan BUNUHLAH mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan USIRLAH mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Mekah)..
    (Q.S: al-Baqarah: 191-193).

    “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir,maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.
    Qs. Al-Anfaal :12

    Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir di medan perang maka pancunglah batang leher mereka.
    Qs. Muhammad : 4

    Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri .
    Al-Baqarah : 190

    Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya.
    Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu,
    Al-Hajj (22) : 40

    BUNUH SEMUA TENTARA , POLISI, INTELIJEN , MILISI SIPIL ,HAKIM DAN
    BUNUH SEMUA PEJABAT SIPIL Pemerintah Negara Yang Memerintah dengan Hukum Buatan Manusia (Negara Kufar).

    BUNUH SEMUA MEREKA-MEREKA MENDUKUNG NEGARA-NEGARA KUFAR DAN MELAKUKAN PERMUSUHAN TERHADAP ISLAM.
    JANGAN PERNAH RAGU MEMBUNUH MEREKA sebagaimana mereka tidak pernah ragu untuk MEMBUNUH, MENGANIAYA DAN MEMENJARAKAN UMMAT ISLAM YANG HANIF.

    INTAI, BUNUH DAN HANCURKAN Mereka ketika mereka sedang ada dirumah mereka jangan diberi kesempatan lagi.
    GUNAKAN SEMUA MACAM SENJATA YANG ADA DARI BOM SAMPAI RACUN YANG MEMATIKAN.

    JANGAN PERNAH TAKUT KEPADA MEREKA, KARENA MEREKA SUDAH SANGAT KETERLALUAN MENENTANG ALLAH AZZIZUJ JABBAR , MENGHINA RASULULLAH SAW, MENGHINA DAN MEMPERBUDAK UMMAT ISLAM.
    BIARKAN MEREKA MATI SEPERTI KELEDAI KARENA MEREKA ADALAH THOGUT DAN PENYEMBAH THOGUT

    HANCURKAN LULUHKAN SEMUA PENDUKUNG PEREKONOMIAN NEGARA-NEGARA KUFAR
    DARI HULU HINGGA HILIR

    MEREKA YANG MEMATUHI DAN MELAKSANAKAN PENGUMUMAN INI
    ADALAH TENTARA KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH
    SEDANGKAN YANG RAGU DAN MENOLAKNYA MAKA
    MEREKA SECARA OTOMATIS MENJADI MUSUH ISLAM YANG HARUS DIHANCURKAN.

    WAHAI PARA IKHWAN JANGAN PERNAH TAKUT PADA MEREKA,
    UBUN-UBUN MEREKA SEMUA BERADA DALAM KEKUASAN DAN KEHENDAK ALLAH SUBHANAHU WA TA’ALA.

    HANYA SATU UNTUK KATA UNTUK BERHENTI PERANG,
    MEREKA MENYERAH DAN MENJADI KAFIR DZIMNI.
    DAN BERDIRINYA KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH.
    KHALIFAH IMAM MAHDI.

    Kemudian jika mereka berhenti dari memusuhi kamu, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi
    Maha Penyayang.
    Al-Baqarah : 192-193

    SAMPAIKAN PESAN INI KESELURUH DUNIA,
    KEPADA SEMUA ORANG YANG BELUM TAHU ATAU BELUM MENDENGAR

    MARKAS BESAR ANGKATAN PERANG
    KHILAFAH ISLAM AD DAULATUL ISLAMIYAH MELAYU
    PANGLIMA ANGKATAN PERANG PANJI HITAM
    Kolonel Militer Syuaib Bin Sholeh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s