MAFHUM JAMA’AH

Syaikh DR Yusuf Qardhawi mengatakan dalam Bukunya Al Qayyim bahwa: jalan keluar Islam…antara kewajiban dan kebutuhan.
Aktifitas jama’ah (organisasi) itu sebuah kebutuhan, hal ini karena apa yang diwajibkan agama dan kenyataan bersama bahwa:
1. Agama kita menyuruh untuk bersatu dan tolong menolong dalam hal yang baik dan taqwa, dan ini adalah amal perbuatan yang dikhususkan dalam hal yang baik dan taqwa, dan kepentingan darurat yang mendesak.
2. Al Quran menuntut kita:

(ولْتَكُنْ منْكمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إلَى الخَيْرِ ويَأْمُرُونَ بالْمَعْرُوفِ ويَنْهَوْنَ عَنِ المُنْكَرِ، وأُولَئِكَ هُمُ المُفْلِحُونَ). (آل عمران: 104)
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.

Dan masyarakat bukanlah organisasi individu yang tersebar dan tidak hanya organisasi, disebutkan dalam tafsir Al-Manar: “Yang benar adalah bahwa masyarakat itu lebih spesifik dari pada organisasi, terdiri dari individu yang masuk kedalamnya dan bersatu menjadi semacam anggota dalam struktur tersebut.”

3. Kaedah hukum menyatakan:
أن ما لا يتمُّ الواجب إلا به فهو واجب
Sesungguhnya apa-apa yang menyebabkan tidak sempurnanya kuwajiban kecuali dengannya berarti wajib hukumnya. Contoh : terlaksanya ibadah haji hanya bisa dilaksanakan dengan harta, maka mencari harta hukumnya wajib, karena tanpa harta, haji tidak akan terlaksana. Mendirikan masyarakat dan pemerintahan dengan aqidah dan syareat Islam adalah perintah wajib, dan tidak ada cara lain untuk mewujudkannya kuwajiban ini kecuali dengan berjama’ah (berorganisasi), maka berorganisasi itu menjadi wajib.
4. Kenyataan menunjukkan kepada kita bahwa sedikit orang yang bayak kawannya, dan bahwa upaya individu apapun tergantung pada ketulusan mereka, hasil yang dibutuhkan tidak dapat mempengaruhi untuk mencapai tujuan yang diinginkan; karena lemah energi, terbatasnya waktu, pengaruh sementara. Individu mungkin banyak, tetapi banyak tujuan, dan jalan yang berbeda, dan kurangnya komunikasi dan koordinasi antara aktifis, upaya mengacaukan dan dampak yang melemahkanya. Adapun tindakan kolektif, adalah upaya menggabungkan satu sama lain, mengkoordinasikan dan mengarahkan mereka untuk mencapai sasaran, dan mengurangi efek lemahnya individu bagaikan suatu bangunan yang saling menguatkan.
5. Jika kita melihat kekuatan-kekuatan negatif dari Islam dengan nama, tujuan dan sarana yang berbeda, dan mereka bekerja dalam bentuk kelompok, koalisi, partai dan front, maka tidak diterima berdasar standar syareat, tidak logis karena yang diterima adalah upaya kolektif yang terorganisir dari individu yang berserakan, tapi harus sesuai atau lebih kuat dari organisasi lainnya, Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Abu Bakar Khaled: hadapilah untuk melawan mereka seimbang dengan mereka bila mereka memakai pedang hadapi dengan pedang, bila memakai tombak hadapilah dengan tombak, bila dengan lembing hadapilah dengan lembing, dan cendekiawan dihadapi dengan cendekiawan.
6. Berdasarkan Firman Allah Ta’ala:

(والذينَ كَفَرُوا بعْضُهُمْ أولياءُ بعضٍ، إلاَّ تَفْعَلُوهُ تَكُنْ فِتْنَةٌ فِي الأرضِ وفَسَادٌ كَبِيرٌ). (الأنفال: 73)

Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. jika kamu (hai para muslimin) tidak melaksanakan apa yang Telah diperintahkan Allah itu niscaya akan terjadi kekacauan di muka bumi dan kerusakan yang besar.

yang dimaksud dengan apa yang Telah diperintahkan Allah itu: keharusan adanya persaudaraan yang teguh antara kaum muslimin, karena orang-orang kafir itu juga saling tolong menolong diantara mereka. Bila kaum muslimin tidak mau bersatu padu, tetapi berpecah belah maka terjadilah kekacauan, kerusakan besar, dan dihinakan Allah, dengan mengkaji ayat ini maka diambil rekomendasi untuk mendirikan pemerintahan berdasarkan syareat Islam secara legal yang dikung oleh organisasi politik, dan hukum masyarakat untuk taat.

Syaikh Islam Ibnu Taimiyyah:
Syaikh Abdurrahman Abdul Khaliq, Direktur lembaga pencapaian Warisan Kuwait, berkaitan dengan pengertian Al Jama’ah megatakan : Jama’ah itu apa yang menjadikan manusia berkumpul atas dasar perintah apa? Dan sekurang-kurangnya ada 2 orang berdasarkan hadits Nabi saw yang shahih:
[من يتصدق على هذا فيصلي معه] (أخرجه أحمد والدارمي وأبو داود والترمذي والحاكم والبيهقي وابن حزم من حديث أبي سعيد الخدري)

“Barangsiapa membenarkan hal ini maka shalatlah bersamanya” Hadits dikeluarkan oleh Imam Ahmad, Ad Darimi, Abu Dawud, Tirmidzi, Al Hakim, Al Baihaqiy dan Ibnu Hazm dari Abi Sa’id Al Khudzry. Membenarkan adalah bergabung dengannya dalam shalat jama’ah yang berpahala. Seperti sabda Nabi saw:
[صلاة الجماعة تعدل صلاة الفذ بسبع وعشرين درجة] (متفق عليه من حديث ابن عمر).
Pahala shalat jama’ah itu dibanding dengan shalat sendirian adalah lipat 27 derajad. (Hr. Mutafaqun ‘alaihi, dari Ibnu’Umar).

Maka hadits ini menunjukkan bahwa jama’ah itu sedikitnya 2 orang, dan Rasulullah saw saat itu shalat beserta seorang laki-laki saja. Maka sunnah ‘amaliyyah dan qauliyyah menunjukkan bahwa jama’ah itu sekurang kurangnya 2 orang. Dan tidak ada batasan jumlah individu dalam jama’ah, hingga ribu-ribuan, tetapi semua itu satu jama’ah. Sebagaimana sabda Nabi saw:

[يد الله على الجماعة] (أخرجه الترمذي من حديث ابن عباس وحسنه وصححه الألباني)

Tangan (Kekuasaan) Allah itu di atas jama’ah (Hadits dikeluarkan oleh Tirmidzi dari Ibnu Abbas dan dishahihkan Albany).

Dan dikatakan : jama’ah Islam itu semua orang yang bersatu atas dasar pemimpin pada waktu tertentu, seperti sabda Nabi saw kepada Khudzifah yang panjang mengenai fitnah: beliau bersabda:

[الزم جماعة المسلمين وإمامهم] (متفق عليه من حديث حذيفة).

“Tetaplah kamu dalam jama’ah Islam dengan pemimpin-pemimpinnya.” (Muttafaqun ‘alaihi dari hadits Khudzifah).

Pengertian “tetaplah” disini bukan dalam hal akidah dan agama mereka, tetapi menetapi dalam perjuangannya, dan pemahaman mereka, karena makna tetap (wajib) ini berdasarkan ucapan Nabi saw:

[ألا من ولي عليه وآل فرآه يأتي شيئاً من معصية الله، فليكره ما يأتي من معصية الله ولا ينزعن يداً من طاعة] (رواه مسلم. )

“Ingatlah barangsiapa memimpin atasnya dan umat ini kemudian ia melihat pemimpin itu berbuat suatu yang maksiyat kepada Allah, maka hendaklah ia membenci kemaksiyatannya, dan jangan kalian lepas tangan dari masalah taat.”(Hr. Muslim).

Demikian pula sabda Nabi saw :

[وإذا رأيتم من ولاتكم شيئاً تكرهونه، فاكرهوا عمله ولا تنزعوا يداً من طاعة] (رواه مسلم من حديث عوف بن مالك)،
“dan bila kalian melihat pemimpin kalian berbuat sesuatu yang kalian membencinya, maka bencilah perbuatannya dan jangan kalian lepas tangan dari ketaatan. (hadits riwayat Muslim dari ‘Auf bin Malik).

Demikian pula sabda Nabi saw :

[من كره من أميره شيئاً فليصبر عليه فإنه ليس أحد من الناس خرج من السلطان شبراً فمات عليه إلا مات ميتة جاهلية] (رواه مسلم).

“Barang siapa benci pemerintahnya maka hendaklah sabar atasnya, karena sesungguhnya tak ada seorangpun dari manusia yang keluar dari kekuasaan satu jengkal saja, bila mati, mati secara jahiliyyah.” (Hr. Muslim).

Beberapa hadits diatas semuanya menerangkan waqjibnya jamaah yaitu dalam arti taat kepada pemimpin untuk keluar berjihad, membayar zakat kepadanya, dan hal lain yang seperti itu dari apa yang penting dari adanya pemimpin. Maka maksud hadits ini menerangkan bahwa jama’ah itu sekurang kurangnya 2 orang hingga lebih banyak lagi, dan sungguh semua jama’ah bersatu atas satu perintah wajib pada pemimpin yang ditaati, bila jama’ah shalat maka wajib taat pada imamnya, demikian juga jama’ah untuk bepergian, jama’ah untuk jihad, jama’ah umum lainnya, dan semua jama’ah bersatu atas urusan dari masalah agama dan dunia, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan pemimpin yang ditaati.

Legalitas Jama’ah dan hukum organisasi
Setiap urusan tidak akan sempurna kecuali atas dasar kesepakatan dengannya karena itu hokum berjama’ah adalah wajib. Sebagaimana ditetapkan dalam ilmu Ushul Fiqih
ما لا يتم الواجب إلا به فهو واجب

(apa yang tidak sempurna kecuali dengannya maka wajib melakukannya) Maka kuwajiban perperang itu kuwajiban Jama’ah karena itu tidak ada kuwajiban perang mengahadapi musuh untuk pribadi sendiri-sendiri, dan Muslim tidak akan meraih kemenangan kecuali dengan berjama’ah, adanya perintah, dan pemimpin dan tagaknya umat Islam tidak akan sempurna kecuali dengan pemimpin, dan dengan begitu pemilihan pemimpin adalah fardhu wajib.. Seperti halnya dalam kasus kejahatan yang tidak dapat dihilangkan kecuali dengan jama’ah tersebut maka berjama’ah itu menjadi wajib, dan seterusnya dalam semua bidang seperti organisasi kombinasi, pembangunan masjid, memandikan janazah, mengkafani dan pemakamannya, pendidikan dan pengajaran ilmu, dakwah dan iman, dan sebagainya yang Allah telah memerintahkan atas ..-hamba-Nya, Singkatnya, ingat pernyataan ushul fiqih (apa yang tidak sempurna kecuali dengannya maka wajib melakukannya) Ketika agama telah tegak, diceritakan adanya usaha agresor menentang Umat Islam, dan Islam adalah milik umat tidak hanya Imam, tetapi tidak akan sempurna umat tanpa pemimpin, maka mengangkat pemimpin wajib dalam agama, dan ini konsensus umat Islam sebagaimana para shahabat berjama’ah untuk memilih pemimpin sepeninggal Rasulullah saw , untuk mendirikan agama, mengorganisir urusan kaum muslimin, dan usaha untuk menjunjung tinggi kalimat Allah, dan kalimat yang merendahkan kaum kafir.

Kemudian kaum Muslim berjalan seperti itu maksudnya memilih Khalifah dan pemimpin dari generasi ke generasi selanjutnya dan Allah telah menggariskan dengan nas ayat yang mewajibkannya, Dia berfirman:

إن الله يأمركم أن تؤدوا الأمانات إلى أهلها، وإذا حكمتم بين الناس أن تحكموا بالعدل} (النساء:58)

(Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.)(QS An Nisa: 58) dan pengertian amanat di sini adalah amanat pemerintahan, sebagaimana Rasulullah saw bersabda:
[من مات وليس في عنقه بيعة مات ميتة جاهلية] (رواه مسلم).

[Barang siapai mati dan ia tidak mau berba’iat kepada imam maka matinya sebagai mati jahiliyyah] (HR. Muslim).

Sebagai kesimpulan, penguasa Umum wajib bagi umat Islam, umat Islam tidak boleh menghabiskan satu malam saja tanpa seorang pemimpin, yang dipimpin oleh Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, tetapi bila tidak demikian berdosa, dan tidak ada keraguan bahwa shalat jama’ah adalah wajib kifayah/komunal atau wajib ain, seperti doktrin Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan titik temu antara dua madzhab itu harus berjama’ah untuk menegakkan shalat, bila tidak berarti meninggalkan Shalat jama’ah, yang akhirnya merobohkan pilar agama dan mempersempit shalat dan semuanya berdosa.

Tidak ada keraguan bahwa peperangan adalah wajib, dan ketika pertempuran tidak akan berhasil tanpa panglima, pemimpin dan jama’ah yang menjadi sumber keluarnya pendapat, saran dan ketertiban serta keputusan pemimpin untuk jihad adalah wajib tidak diragukan lagi, dan tidak dibenarkan orang-orang secara memerangi secara terpisah dan menyelisihi , tanpa seorang pemimpin dan sistem karena ini merupakan penyebab kegagalan, kekalahan dan kerugian, dan hal ini diketahui dengan akal-pikiran. Ini juga merupakan ajaran Nabi saw, khalifah setelah beliau, penetuan pemimpin untuk ibadah haji dimana orang-orang mengambil pikirannya dan kembali ke sana, maka ibadah haji tidak sah kecuali dengan Imam demikian juga ibadah zakat tidak syah kecuali memberikannya kepada imam dan sistem distribusinya, sebagaimana firman Allah: (Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan[658] dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.) (QS At Taubah : 103) dan Nabi saw memerintahkan, para khalifah di setiap negara mengumpulkan zakat dari orang kaya dan mendistribusikannya kepada orang miskin, seperti kata Nabi saw kepada Muadz bin Jabal ketika mengirimnya ke Yaman:

[إنك تقدم على قوم أهل كتاب فليكن أول ما تدعوهم إليه أن يوحدوا الله فإن هم أطاعوك لذلك فأخبرهم أن الله قد فرض عليهم خمس صلوات في يومهم وليلتهم فإن هم أطاعوك لذلك فأخبرهم أن الله قد فرض عليهم زكاة تؤخذ من أغنيائهم وترد على فقرائهم فإذا أطاعوا بها فخذ منهم وتوق كرائم أموال الناس] (متفق عليه

“[Sungguh kamu akan berhadapandengan orang orang-orang Ahli Kitab karena itu hal pertama yang kamu serukan adalah agar mereka mengEsakan Allah, bila mereka mentaatimu maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan merekauntuk mendirikan shalat lima waktu siangi dan malam kemudian bila mereka mentaatimu maka beritahu mereka bahwa Allah telah mewajibkan merekamembayar zakat diambil dari orang yang kaya dari mereka dan diberikan kepada orang miskin, jika mereka metaati maka ambilah zakat mal dari mereka ] (Muttafaqun ‘alaihi) .

Dan Nampak bahwa zakat seperti haji dan shalat, yaitu ibadah yang tidak akan baik kecuali dalam jama’ah dan imam, demikian juga puasa perlu imam yang menentukan awal dan akhir bulan, dan wajib atas muslim untuk mentaati pandangan pemimpin dan kepala Negara agar puasanya tidak salah dalam berbuka dan berpuasa.

[الصوم يوم تصومون والفطر يوم تفطرون والأضحى يوم تضحون] (أخرجه الترمذي عن أبي هريرة وحسنه وصححه الألباني).
“Puasa itu pada hari kalian bepuasa, berbuka itu pada hari kalian berbuka, dank urban itu pada hari kalian berkurban. (H. dikeluarkan oleh Tirmidzi dari Abi Hurairah dan dishahihkan oleh Albani).

Semua ini menunjukkan bahwa ibadah adalah pilar besar Islam, tidak sah kecuali dalam jama’ah dan komitmen terhadap pandangan imam dan sistem kerja, dan kelainan salah satu dari mereka berarti keluar dari jama’ah ini adalah dosa, menyimpang dari shalat jama’ah dengan kemampuannya sendiri shalatnya tidak syah, dan menyimpang dari puasa pada saat yang ditentukan dan dia berpuasa sendiri dan berbuka sendiri berarti menyimpang dan berdosa. Dan berhaji sendiri di hari yang bukan harinya dimana ia wukuf di Arafah sendiri tanpa jama’ah hajinya tidak syah.

Dan demikianlah kita tahu bahwa jama’ah itu keharusan dalam suatu rukun, dan tidak diragukan bahwa jamaah adalah keharusan dalam jihad, dan bahwa tidak ada jihad tanpa keputusan pemimpin dan panglima, dan tidak diragukan bahwa tidak ada jama’ah kecuali denagan ketaatan dan pemimpin, sebagaimana firman Allah SWT:

{إنما المؤمنون الذين آمنوا بالله ورسوله، وإذا كانوا معه على أمر جامع لم يذهبوا حتى يستأذنوه} (النور:62).
Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. (QS An Nur :62)
Arti yatasallalu itu menyelinap atau bersembunyi) dibalik pohon atau dinding atau yang semacam itu, di sini kita melihat bahwa Allah telah memperingatkan pelanggaran terhadap Rasul, dan mengancam mereka dengan fitnah atau azab yang pedih dan amalan di sini adalah jihad praktis (gerakan) Tidak ada keraguan bahwa pelajaran ini juga dengan lafal umum dari istilah tersebut dan maknanya (perintahnya), tetapi sebab turunnya ayat ini tak pelak lagi pada umumnya tetapi ia adalah yang pertama terjadi di dalamnya, karena itulah datang nas ayat.

Kesimpulan bahwa Islam adalah sistem kolektif berdasarkan jama’ah dalam hampir semua hal dalam kehidupan publik dan tatanan: seperti shalat, puasa, zakat, Haji, jihad, perjalanan, wilayah dan negara, tetapi dalam setiap kasus, seperti menetapkan seorang direktur pasar, industri dan sebagainya.

Jika mereka yang telah jelas menyatakan larangan berorganisasi dan berjama’ah atas pemenuhan dari suatu kewajibam kifayah: seperti amar makruf dan nahi mungkar, atau pembentukan jamaah Jumat, atau kinerja zakat yang lebih baik atau haji, secara kolektif, sesuai sunnah, atau berjuang menghadapi musuh-musuh Allah dan mencegah ketidak adilan, atau menghadapi penguasa kafir yang aniaya ysng memerangi Allah dan Rasul-Nya, atau menyelamatkan kaum muslimin yang tertindas .. atau .. Atau .. Ini hipotesis panjang, aku akan mengatakan jika mereka yang jelas menyatakan haramnya jama’ah dan berjama’ah di semua segi yang mempunyai manfaat yang besar, dan efek yang diberikan oleh jama’ah terhormat dan masyarakat Islam bagi kaum muslimin di bumi timur dan barat .. Dan mereka sendirian dengan hawa nafsu dan kebangsaannya, dan mata mereka dihapus dari kegelapan kebodohan dengan ilmu yang luas, dan tampak luar hidung mereka, ketika mereka mengajukan fatwa tidak akan mengeluarkan pendapat yang salah dan perkataan konyol.

Penolakan terhadap jama’ah Islam yang utama terhadap Muslim dan siapapun adalah urusan yang tidak dapat dibantah dan diingkarinya kecuali oleh orang yang ditandai oleh sifat-sifat yang telah disebutkan di atas .. Kalau tidak, apa Islam ini dan apa kebangkitan Islam kembali Islam yang baru, di mana kita hidup sekarang ini, hanya sisa-sisa dari kelompok Jihad digabungkan dengan panggilan Allah, menanggung biaya uang dan kata jihad, pedang dan lidah.

Apakah mungkin pekerjaan seperti ini dilakukan kelompok Mujahidin, yang hanya bisa terpenuhi dengan adanya jama’ah, perencanaan, sistem organisasi politik, legitimasi kebijakan, dan kesadaran akan realitas sekitar ..

Apakah kita semua tidak bangga hari ini bahwa generasi muda muslim, yang kembali kepada kami dari negara Barat, Amerika dan Eropa, bersenjata dengan ilmu pengetahuan, yang memenangkan pengetahuan tentang hukum, waktu dan agama, bagaimana lulus dari Universitas Islam di pusat Islam dan bahkan terletak pada penciptaan dan pemahaman tentang waktu dan bagaimana ia dibesarkan di sini. . Jangan kita merasa bangga seperti ini dengan kembalinya orang-orang muda dari tanah perselingkuhan, yang telah melampaui penderitaan korupsi dan manipulasi, dan dilingkupi semua godaan, manifestasi ucapan, dan meminta untuk mengeluarkan fatwa tanpa pengetahuan, Anda memiliki orang-orang muda yang hanya memiliki buah kelompok kerja, organisasi advokasi, yang memiliki amirdan komandan, sistem pendanaan dan aktifitas sekolah ?.

Apakah Anda melihat bila orang-orang muda melakukan penjarahan bersama meninggalkan buku yang mereka yang mereka baca, atau nasehat yang lewat apakah mungkin memberi petunjuk dalam jumlah besar, atau berdiri pusat Islam di mana-mana, dan dibangun masjid di berbagai penjuru, dan merubah gereja gereja menjadi masjid, dan forum untuk ilmu dan Pemahaman?.

Dan mereka orang-orang yang dipilih oleh Allah Yang Maha Esa adalah buah dari upaya-upaya tulus, dan ini adalah amal usaha yang keras di mana jama’ah melakukan dakwah di mana-mana di seluruh dunia Muslim dan itulah karunia Allah, ituvadalah pertanda dari generasi Al-Quran yang ideal sesuai janji Allah terhadap mereka ,

{…ولينصرن الله من ينصره إن الله لقوي عزيز}) الحج:40. (

…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa) (Haji: 40).
Sumber: Islam online net

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s