Thariqah Dalam Quran dan Hadits.

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin wash shalaatu was salaamu ala Muhammadin wa alihi wa shahbihii wat tabi’iinas shaalihiin.
Ditanyakan apakah yang dimaksud dengan thariqah itu?
Thariqah berarti jalan atau metode, untuk mencapai hakekat/inti sari kebenaran yang bersifat batiniyyah, sebagai penyeimbang kebenaran lahiriyah/kebenaran syareat. Karena itu dengan berthariqah akan seimbang antara unsur syareat lahiriyyah dan hakekat batiniyyah.
Apakah semua thariqah itu lurus dalam menegakkan aqidah, ibadah dan muammalah?
Tidak semua thariqah itu berada dalam kebenaran, karena thariqah itu jalan rohani yang ditempuh manusia, ada 3 macam tarekat:
Pertama tarekat yang haq yaitu tarekat yang berlindung hanya kepada Allah serta mentaati Allah dan rasulnya, mereka bertarekat dengan menggali nilai-nlai spiritual yang ada dalam kitabullah dan sunnah rasul. Allah berfirman :
    •               
mereka berkata: “Hai kaum Kami, Sesungguhnya Kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. (QS Al Ahqaaf30).
Ayat di atas mengungkap petinggi dari kelompok jin yang mendengar Al Quran, berisi ajaran yang mengajak pada kebenaran syareat dan menempuh tarekat mustaqim/lurus kemudia mengajak kaumnya untuk melaksanakan tuntunan Islam yang sempurna.
Kedua adalah tarekat dhalal yang ditempuh kaum kafir, pelindung mereka adalah syetan, mereka diberi istidraj seperti sihir atau kesuksesan dalam rejeki, Allah berfirman:
•            
Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka,
  •          
kecuali jalan ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS An Nisa 168-169).
Ketiga adalah tarekat inkhiraf (menyimpang), karena pada dasarnya mereka memeluk Islam, tetapi thariqah yang mereka jalankan itu menyimpang dari aqidah ahlus sunnah wal jamaah, hingga melakukan perbuatan syirik, seperti mengkultuskan tokohnya, bertawasul ghairu masyru’, melakukan perbuatan bid’ah.
Bagaimanakah tarekat yang haq itu?
Tarekat haqq adalah tarekat yang selalu menjaga kemurnian aqidah, mentaati ketentuan syareat, mengamalkan tarekat berdasar ketentuan kitabullah dan sunnah rasul.
Apa ada perbedaan antara syareat dan tarekat itu?
Ada perbedaan antara syareat dan tarekat, dari segi sumber, syareat bersumber dari wahyu kerasulan dan tareakat bersumber dari wahyu kenabian. Sebagaimana kita ketahui bahwa Muhammad saw adalah nabi dan rasul, artinya beliau menyampaikan agama Islam itu meliputi dua unsur tersebut, dan semuanya telah beliau sampaikan tidak ada yang beliau sembunyikan, karena beliau itu bersifat tabligh.
Allah berfirman :
•           •       
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi Dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. dan adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu (QS Al Ahzaab 40).
Sebagai rasul beliau mengajarkan syareat Islam, sebagai nabi beliau mengajarkan tarekat Islam, karena itu seorang shahabat yaitu Abdullah bin busri bersaksi terhadap seorang lelaki yang bertanyanya pada rasulullah saw, disebutkan dalam hadits Tirmidzi :
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرِ اَلصَّحَابِيْ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ أَنَّ رَجُلاً قَالَ: يَارَسُوْلَ اللَّهِ‏!‏ إِنَّ شَرَائِعَ اْلإِسْلاَمِ قَدْ كَثُرَتْ عَلَيَّ فَأَخْبِرْنِيْ بِشَيْءٍ أَتَشَبَّثُ بِهِ، فَقَالَ: “لاَ يَزَالُ لِسانُكَ رَطْباً مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ تَعَالَى”. قَالَ التِّرْمِذِيُّ: حَدِيْثٌ حَسَنٌ.(كِتَبُ اْلأَذْكَارِ رواه الترمذي باب قراءات) ە٣٤٣
Dari Abdullaah bin Busri ra (Shahabat Nabi) bahwasanya ada seorang laki-laki berkata: “Wahai Rasulullah sungguh syareat Islam itu telah banyak padaku maka beritahu- kanlah aku suatu amalan yang akan aku pegang teguh dengannya” Beliau bersabda: Hendaklah lesanmu selalu berkomat-kamit untuk dzikrullah Ta’ala.” (Hr Tirmidzi, hadits Hasan).
Hadits di atas menunjukkan dengan jelas bahwa shahabat itu telah banyak menerima ajaran syareat, kemudian ia memohon agar Nabi saw memberinya amalan diluar wilayah syareat, yaitu tarekat, karena tarekat itu amalan yang banyak dihiasi dengan dzikir dan do’a sebagai suatu pegangan yang tetap dan terus diamalkan secara langgeng.
Apakah faedah mempelajari dan mengamalkan ilmu tarekat?
Faedah mempelajari ilmu tarekat dan mengamalkannya adalah agar menjadi manusia beruntung atau dalam istilah jawa (bejo), ada pepatah wong pinter iku kalah karo wong bejo, artinya orang pandai itu kalah dengan orang beruntung, tetapi untuk mendapat keberuntungan tidak sekedar untung-untungan (kebetulan) tanpa usaha, dzikir dan doa disertai mujahadatun nafsi tidak akan menjadi orang bejo..
Manfaat lain dari tarekat, dengan bertarekat ada proses pembaharuan dan penguatan iman, hingga mencapai yakin, Dengan kajian dan amalan tarekat akan terbentuk pribadi yang memiliki kelembutan hati dan ketajaman mata batin sebagai perangkat spiritual/rohani untuk menangkap sinyal ilahiyah, seperti ilham, firasat, alamat, dan pancaran nur Allah yang diperlukan bagi perjalanan hidup umat manusia guna menghadapi tantangan yang dihadapinya. Allah berfirman :
•     
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-
tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. (QS Al Hijr 75).
Lafal “mutawassimin” berdasar riwayat Tirmidzi dan Al Hakiim dalam Kitab “Nawaadirul Ushuul” dari Abi Sa’id Al Khudzry dari Rasulullah saw yaitu orang-orang mutafarrisiin (orang –orang yang mampu memahami dan menyikapi firasat dari Tuhannya), dan dari riwayat Abu ‘Isa dan Tirmidzi dari Abi Sa’id Al Khudzry dari Rasulullah saw beliau bersabda:
اِتَّقُوْا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُوْرِ اللهِ – ثُمَّ قَرَأَ – “إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٌ لِلْمُتَوَسِّمِيْنَ” (رواه الترمذي عن أبي سعيد الحذري)
Jagalah oleh kalian firasat orang mukmin karena sesungguhnya ia itu melihat dengan nur Allah, kemudian beliau membaca “inna fii dzaalika la aayaatul lil mutawassimiin”.( Hr. Tirmidzi dari Abi Sa’id Al Khudzry).
Usman bin Affan ra menceritakan bahwa Anas bin Malik datang kepadanya sesudah ia melewati pasar dan ia melihat wanita (dengan pandangan syahwat) maka setelah melihatnya Usman berkata : telah datang kepadaku salah seorang diantara kalian dan di kedua matanya ada bekas zina, maka Anas berkata kepadanya: apakah ini sebagai wahyu sesudah rasulullah saw? Usman berkata : bukan tetapi keterangan, firasat dan kebenaran. Hal-hal seperti ini banyak ditemukan pada para shahabat dan tabi’in radhiyallahu ‘anhum.
Tarekat merupakan jalan untuk mendapat kebaikan dunia akherat, dimana kebaikan itu tidak akan dicapai kecuali dengan memahami dan mengamalkan syareat Islam serta mampu menerima ilham ilahiyyah karena itulah rasulullah saw bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ وَيُلْهِمْهُ رُشْدَهُ
Barangsiapa dikehendaki Allah memperoleh kebaikan maka difahamkan dalam agama dan diilhamkan kepadanya keterangan-keterangan-Nya. (Hr. ).
Manfaat dari segi nafsiyyah maka tarekat berfungsi untuk menkondisikan diri agar mampu mencapai kondisi diri (nafsu) yang muthma-innah, karena nafsu muthma-innah itulah yang dipanggil Allah untuk masuk ke dalam surga sebagaimana firman Allah Ta’ala:
 • •      •       • 
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam syurga-Ku. (QS Al Fajr 27-30)
Dalam bahasa Al Quran, muthmainnah adalah keadaan diri yang tenang, dan ketenangan diri itu bergantung pada kondisi hati, bila hatinya tenang maka akan tenanglah jiwanya. Allah menjelaskan bahwa tenangnya hati lantaran dzikrullah sebagaimana firmna-Nya:
            
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenang. (QS Ar Ra’du 28)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s