WALI NIKAH DALAM PERNIKAHAN

Status Perkawinan Eyang Subur

Mayoritas ulama meyakini bahwa wali itu menjadi syarat keabsahan pernikahan, jika seorang wanita menikahkan dirinya sendiri padahal walinya ada maka pernikahannya batal/tidak sah, dan harus memperbaharui akad nikahnya, hal ini berdasar dalil diantaranya dari sabda Rasulullah saw:

“لا نكاح إلا بولي” رواه أحمد (8697)، وأبو داود (2085)، والترمذي (1101) من حديث أبي موسى الأشعري –رضي الله عنه-، ورواه الحاكم (2/185) من طرق كثيرة، وقال: “وقد صحت الرواية فيه عن أزواج النبي –صلى الله عليه وسلم- عائشة، وأم سلمة، وزينب بنت جحش، رضي الله عنهن جميعا –وقال قبل ذلك-: وفي الباب عن علي وابن عباس ومعاذ بن جبل..”ثم سرد تمام ثلاثين صحابياً، انظر: التلخيص الحبير (3/156
– “Tidak syah pernikahan tanpa wali,” diriwayatkan oleh Ahmad (8697), dan Abu Dawud (2085), dan al-Tirmidzi (1101) dari hadits Abu Musa al-Asy’ari ra – dan Hadits riwayat Al Hakim.(2/185) dari banyak jalan, ia berkata: “riwayat ini nyata shahihnya dan diantara riwayat ini dari di mana istri-istri Nabi – saw, seperti – Aisyah, Ummu Salamah, dan Zainab binti Jahsy, rha – dan mengatakan sebelumnya di dalam Al Baab dari Ali dan Ibnu Abbas dan Muadz bin Jabal .. “dan kemudian terdaftar persisnya 30 (tiga puluh) sahabat, lihat: At Talkhishul Habiir (3/156).
Karena itu keberadaan wali nikah untuk menikahkan seorang wanita baik janda maupun perawan adalah wajib hukumnya.
Yang wajib menjadi wali nikah adalah bapaknya, bila tidak ada maka kakeknya, bila tidak ada maka salah satu dari saudara laki-lakinya, bila tidak ada maka wali hakim, yaitu kepala desa atau camat, atau Bupati dan seterusnya.

Diriwayatkan dari Aisyah – semoga Allah memberkahinya – berkata Rasulullah saw:

“أيما امرأة نكحت بغير إذن مواليها فنكاحها باطل –ثلاث مرات- فإن دخل بها فالمهر لها بما أصاب منها، فإن تشاجروا فالسلطان ولي من لا ولي له” رواه أحمد (4250) وأبو داود (2083) وابن ماجه (1879) وصححه أبو عوانة، وابن خزيمة، وابن حبان (4074)، والحاكم (2/182)، قال ابن كثير: وصححه ابن معين، وغيره من الحافظ. سبل السلام (3/118)، وانظر فتح الباري (9/191
“Setiap wanita yang menikah tanpa izin dari wali-walinya maka pernikahannya tidak syah – (beliau mengulangi sabdanya tiga kali, bila akan masuk kepadanya maka harus memberikan mahar baginya, bila wali tidak ada maka pemerintah-lah yang menjadi wali baginya,” diriwayatkan oleh Ahmad (4250), Abu Dawud (2083) dan Ibnu Majah (1879) dan dishahihkan oleh; Abu Awana, Ibnu Khuzaymah, Ibnu Hibban (4074), AL hakim (2/182), Ibnu Katsir berkata: hadits ini dishahihkan oleh Ibnu Mu’ayyan dan lain-lainnya dari Al Hafizh As Subulus Salam (3/118), dan lihat Fathu al-Baari (9/191).
Jika Anda berada di negara yang tidak ada pemimpin yang sah menurut syareat maka agar disetujui oleh umat Islam dengan pernyataan tertulis untuk melakukan pernikahannnya, dengan diwakili Imam jamaah, atau kepala Islamic Center.

Bila kita cermati dari pernyataan mantan pengikut Eyang Subur yang bernama Sanjaya, ternyata pernikahan Eyang Subur dengan keponakan itu tidak syah secara syareat Islam, karena pernikahan itu tanpa seijin walinya. Kemudian perlu dipertanyakan pula, bagaimana poligaminya dengan ke tujuh isterinya, jangan-jangan pernikannya juga tanpa wali, bila demikian sama saja dengan praktek kumpul kebo.

Bila hal ini ingin cepat diselesaikan maka para wali nikah dari para wanita yang dianggap sebagai isteri Subur wajib melapor ke penegak hukum sebagai delik aduan, yaitu melarikan anak gadisnya, memperisterinya tanpa persetujuan/ijin walinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s