TAREKAT- TASHAWUF ….KEUTAMAAN . PENTINGNYA DAN FAEDAHNYA.‎

Muhammad Habib. ‎ Tashawuf adalah pendekatan pendidikan ruhani dan jalan halus untuk menuju tingkat ihsan ‎sebagaimana diterangkan Nabi saw yaitu : “bahwa menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, ‎dan bila tidak mampu maka kamu merasa bahwa Dia (Allaah SWT) selalu melihatmu.”‎ Karena itu Tashawwuf adalah program pendidikan yang mementingkan kebersihan jiwa dari segala ‎penyakitnya yang mendindingi manusia dari Allah dan meluruskan penyimpangan diri dan ‎penyimpangan jalan hidupnya yang terkait antara manusia dengan Dzat Allaah.‎ Diri manusia terdiri dari sejumlah sifat-sifat yang membutuhkan pemangkasan, pemotongan dan ‎kerapian yang menjadikan kegelapan hatinya dan menghalanginya…seperti jasmaninya yang terus ‎membutuhkan pemangkasan, pemotongan dan perawatan agar nampak rapi dan indah, maka bagian ‎tubuh manusia seperti rambut kepala perlu pemotongan, mencabut rambut ketiak, memotong kuku, ‎membersihkan gigi, dan lain-lainnya. ‎ Demikian pula nafsu manusia bila keadaannya dibiarkan sifat-sifat manusia akan berubah menjadi ‎kejam/buas, sadis dan sifat-sifat negative lainnya, karena itu nafsu manusia perlu dilakukan ‎pemangkasan dan pembersihan.‎ Maka tarekat-tashawwuf adalah tempat pembelajaran yang menyelenggarakan amalan pembersihan dan ‎pendidikan kesucian ….. seperti pasien yang membutuhkan dokter untuk mengobati apa yang sakit ‎dari anggota badannya, demikian pula pengobatan nafsunya dari penyakitnya yang memerlukan orang ‎pintar, tahu, cerdas dan mulia untuk membimbing penyucian diri.‎ Nafsu menjadi sumber berkumpulnya potensi jelek yang ada di dalamnya seperti mengagumi diri ‎‎(‘ujub), sombong (kibir) memperdaya (ghurur), egoism (ananiyyah), kikir (bakhil), marah (ghadhab), ‎pamer (riya’), suka maksiyat (raghbatu fil ma’shiyah), salah (khathi-ah), menyksa (intiqam), benci ‎‎(karahah) dengki (hiqdun), menipu (khida’) rakus (thama’), loba (jasya’) dan banyak penyakit ‎lainnya….‎ Maka pencegahan dan pengobatan berbagai kejelekan yang ada pada setiap nafsu manusia butuh ‎pemangkasan, dirapikan, penataan dan pembersihan, karena nafsu syahwat itu seperti noda hitam di ‎dalam nafsu yang menutupi cahaya sehingga menjadi penghalang untuk dapat melihat yang benar (haq) ‎dan intisari kebenaran (hakekat), dan merusak alat perasa yang dapat merasakan nikmatnya kebenaran ‎dan kebaikan. ‎ ‎.. Jika keadaan jelek ini dibiarkan akan tumbuh dan berkembang dalam nafsunya seperti gulma yang ‎tumbuh di sekitar bunga-bunga yang indah dan pepohonan, yang menyebabkan keadaan yang baik ‎menjadi semakin lemah dan berubahlah manusia menjadi manusia buas yang dicari hanyalah kepuasan ‎untuk memenuhi keinginan naluri saja.‎ ‎ Oleh karena itu bagaimana pentingnya tarekat dan tasawuf untuk memurnikan diri dari nafsu jahat ini ‎dengan menanamkan sifat-sifat baik dan utama dalam diri, seperti kerendahan hati (tawadhu), tanpa ‎pamrih (itsar), kemurahan hati (kiram), dan cinta (hubb), kerjasama (ta’awun)dan cinta Allah, orang-orang ‎saleh, amal, menolong sesame insan, bahkan semua yang ada di alam, rasa malu, takut kepada Allah, ‎cinta taat kepada-Nya dan merasakan ketenteraman dalam taat, dan lain-lain.‎ Karena itu mengkaji tarekat dan mengambil dari ahlinya diizinkan sebagai istimbath (mengeluarkan nilai-‎nilai) yang bersumber dari syareat yang suci Karena metode ini berasal dari tauhid, memerintahkan ‎supaya tidak menyimpang sedikit pun .. Ini adalah hakekat dalam komposisi jiwa manusia, dimana tarekat ‎ini telah ditempuh oleh nenek moyang umat ini .. Jadi, guru tarekat (syekh) tidak mengizinkan kecuali ‎jika diizinkan oleh gurunya guru. dan begitu seterusnya hingga ke Rasulullah saw maka inilah metode ‎pendidikan kenabian yang diambil dari jama’ah ke jama’ah dan demikian hingga sampai kepada ‎rasulullah saw. seorang muslim ketika meletakkan tangannya di tangan gurunya berbai’at (bersumpah) ‎untuk bertarekat, seakan-akan meletakkan tangannya di tangan rasulullah saw karena guru itu mengambil ‎sumpah untuk mentaati syareat yang suci. ‎ Pentingnya tarekat.‎ Mungkin ada yang mengatakan: tidakkah cukup kita berkomitmen dengan tarekat Islam tanpa ‎mengupasnya dan mengkajinya dalam majlis tarekat sufiyyah, atau dengan kata lain: tudak cukupkah ‎kita berkomitmen pada Kitabullah dan sunnah rasul, karena di dalamnya sudah terkandung tarekat dari ‎Allah dan rasul-Nya ?‎ Hal itu kita jawab : pertama bertarekat dalam majlis tarekat tidak mengeluarkan seseorang dari ‎pegangan kitabullah dan sunnah rasul, selama majlis/organisasi tarekat itu adalah metode dan setiap ‎yang bertentangan dengan kitabullah dan sunnah rasul bukanlah tarekat sufiyyah tetapi itu adalah hal ‎yang ditentang oleh tarekat.‎ Kedua; tarekat bukan sebatas pembelajaran hukum-hukum syari’at saja tetapi juga pembelajaran ‎ruhnya dan dagingnya. ‎ Pentingnya Mursyid.‎ Hukum/syareat dikeluarkan dari nas kitabullah dan sunnah rasul dengan ijtihad yang dilakukan oleh ‎fuqaha atau ulama khusus, untuk mencapai syarat mujtahid diperlukan lmu yang luas dan mendalam ‎dan syarat ini sudah tidak terpenuhi oleh umat masa kini seperti derajad keilmuan yang dicapai oleh ‎Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’I, Imam ibnu Hambal, Sufyan dan Auza’I dan lain-lain. ‎Karena itu dalam hukum kita hanya mengikuti ulama dan fuqaha terdahulu. ‎ Demikian juga dalam ilmu tarekat kita mengikuti ulama yang telah mencapai tingkat ma’rifat dalam ‎masalah Ketuhanan seperti Syeikh Abdul Qadir Jailani, Syeikh Ahmad Rifa’I, syeikh Ahmad Al ‎Badawi, syeikh Ibrahim Ad Dasuqy dan lain-lain. ‎ Bila dalam masalah syareat untuk menerima sebuah hadits harus memenuhi syarat sanad yang tsiqah ‎dan bersambung kepada Rasulullah saw, kemudian matan (redaksi) haditsnya tidak bertentangan ‎dengan ayat Al Quran, maka demikian pula dalam masalah tarekat, juga harus tsiqah dan bersambung ‎sampai pada rasulullah saw, dan karena itu tarekat harus diambl dari orang yang telah diizinkan untuk ‎menyebarkannya secara sambung menyambung.‎ Ilmu tarekat adalah ilmu yang tidak berorientasi pada kepandaian baca-tulis huruf dan hukum ‎lahiriyah, karena orientasi ilmu tarekat adalah masalah yang berkaitan dengan hati, batin, nafsu ‎manusia yang tidak bisa dicapai hanya dengan sekedar membaca dan menulis saja tetapi harus dengan ‎berkomunikasi, berdiskusi, penjelasan, bimbingan, amalan dan berjama’ah dengan mursyid/guru ‎tarekat yang memenuhi syarat.‎ Para Ulama Tarekat menunjukkan syarat-syarat mursyid yaitu :‎ ‎1.‎ Memiliki ilmu syareat ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji dan lain-lain.‎ ‎2.‎ Ma’rifatullah (mengenal Allah SWT) benar aqidahnya dengan aqidah Ahlus Sunnah wal ‎Jama’ah.‎ ‎3.‎ Memiliki ilmu metode/cara mendidik nafsu, pembersihannya, mengenal penyakit-penyakit ‎rohani dan mengenal tempat keluar masuknya syetan pada manusia.‎ ‎4.‎ Diidzinkan untuk mengajarkan ilmu tarekat, karena Ibnu Sirrin berkata mengutip hadits Nabi : ‎‎“sesungguhnya ilmu ini adalah ilmu agama, maka lihatlah dari siapa kamu ambil agamamu.”‎ Karena itu pada setiap muslim yang benar, agar menghadapkan diri kepada Allaah SWT dengan benar ‎dan suka berkumpul (berjama’ah) dengan mursyid pembimbing tarekat, serta bersumpah setia kepada ‎Allah (bai’at) dengan saksi seorang mursyid.‎ Bai’at dalam Tarekat..‎ Bila seorang pejabat bersumpah untuk melaksanakan tugas duniawinya untuk tidak menyeleweng dari ‎hukum. Maka dalam bai’at seorang muslim bersumpah untuk taat kepada Allah dengan kesanggupan ‎melaksakan semua perintah dan menjauhi yang diharankan menurut kemampuannya, maka sumpah ‎kepada Allah SWT itu lebih berhak untuk dilakukan dan dipenuhi.‎ Bai’at mengandung 2 unsur penting, pertama bai’at politik untuk setia kepada pemimpin pemerintah ‎yang syah, kedua, bai’at amal untuk taat kepada Allah dan rasul-Nya. Allah berfirman :‎ ‎ ‎ إن الذين يبايعونك إنما يبايعون الله يد الله فوق أيديهم فمن نكث فإنما ينكث على نفسه ومن أوفى ‏بما عاهد عليه الله فسيؤتيه أجرا عظياً‎ ‎الفتح آية 10‏ Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah[1396]. ‎tangan Allah di atas tangan mereka, Maka barangsiapa yang melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji ‎itu akan menimpa dirinya sendiri dan barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya ‎pahala yang besar. (QS Al Fath 10).‎ ‎ ‎وأوفوا بعهد الله إذا عاهدتم ولا تنقضوا الأيمان بعد توكيدها وقد جعلتم الله عليكم وكيلا‎ (‎سورة ‏النحل:91‏ Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-‎sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu Telah menjadikan Allah sebagai saksimu (terhadap ‎sumpah-sumpahmu itu). (QS An Nahl 91)‎ ‎)‎واوفوا بالعهد إن العهد كان مسؤولا‎ (‎سورة الإسراء:34‏ dan penuhilah janji; Sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya. (QS Al Isra 34).‎ Rasulullah saw bersabda:‎ ‎ ‎بايعوني على أن لا تشركوا بالله شيئاً ولا تسرقوا ولا تزنوا، ولا تقتلوا أولادكم، ولا تأتوا ببهتان ‏تفترونه بين أيديكم وأرجلكم، ولا تعصوا في معروف فمن اوفى منكم فأجره على الله، ومن أصاب من ‏ذلك شيئاً فعوقب في الدنيا فهو كفارة له، ومن أصاب من ذلك شيئا ثم ستره الله فهو الى الله، إن شاء ‏عفا عنه وإن شاء عاقبه (اخرج البخاري في صحيحيه عن عبادة بن الصامت) ‏ Berbai’atlah kalian kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah sedikitpun, tidak mencuri, tidak ‎berzina, tidak membunuh anak-anak kalian, tidak saling menfitnah diantara kalian, tidak menentang ‎perintah yang baik, maka barang siapa yang memenuhi janjinya baginya pahala di sisi Allah, dan barang ‎siapa melanggar sumpahnya akan dihukum di dunia sebagai penebusnya, tetapi siapa yang melanggar ‎kemudian Allah menutupinya maka hukumnya terserah Allah, bila Allah menghendaki memaafkannya, ‎bila tidak akan disiksa.” ( dari Ubadah bin Shamit) dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam shahihnya. ‎ عن يعلى بن شداد قال: حدثني اوسوعبادة بن الصامت حاضر يصدقه قال: كنا عند رسول الله صلى ‏الله عليه وسلم فقال‎: ‎هل فيكم غريب؟ -يعني من أهل الكتاب– فقلنا: لا يارسول الله، فأمر بغلق الباب ‏فقال: ارفعوا أيديكم وقولوا: لا إله إلا الله، فرفعنا أيدينا وقلنا‎: ‎لاإله إلا الله، ثم قال‎:‎الحمد لله، اللهم إنك ‏بعثتني بهذه الكلمة وأمرتني بها، ووعدتني عليها الجنة، وإنك لا تخلف الميعاد، ثم قال‎: ‎ألا أبشروا فان ‏الله قد غفر لكم‎ . ‎ ‎ Dari Ya’la bin Syadad dari Ubadah bin As Shamit yang hadir dan membenarkannya ia berkata: ketika ‎kami berada di hadapan nabi saw beliau berkata: apakah ada orang asing diantara kalian? (yang beliau ‎maksud orang Nasrani atau Yahudi) kami menjawab : tidak wahai Rasulullaah , maka beliau menyuruh ‎menutup pintu dan berkata: angkatlah kedua tangan kalian dan ucapkan : laa ilaaha illallaah, maka ‎kami angkat tangan kami dan kami mengucapkan : laa ilaaha illallaah, kemudian beliau berkata: Al ‎hamdulillaah, Ya Allah sungguh Engkau mengutusku dengan kalimat ini dan Engkau menyuruhku ‎dengan kalimat ini, dan dengan kalimat ini Engkau janjikan surge, dan sungguh Engkau tidak ‎mengingkari janji. Kemudian beliau berkata: tidak maukah kamu saya beri kabar gembira bahwasanya ‎Allaah telah mengampuni kalian ? ‎ روى الطبراني والبزار باسناد حسن: ان علياسأل النبي صلى الله عليه وسلم بقوله: يا رسول الله دلني ‏على أقرب الطرق إلى الله، وأسهلها عبادة، وأفضلها عنده تعالى، فقال النبي‎ ‎صلى الله عليه وسلم ‏‎: ‎‎(‎عليك بمداومة ذكر الله سراً وجهراً، فقال علي‎: ‎كل الناس ذاكرون فخصني بشيء، قال رسول الله ‏صلى‎ ‎الله عليه وسلم‎: ‎أفضل ما قلته أنا والنبييون من قبلي: لا إله إلا الله ولو أن السموات والأرضين في ‏كفة ولا إله إلا الله في كفة لرجحت بهم، ولا تقوم القيامة وعلى وجه الأرض من يقول: لا إله إلا الله، ثم ‏قال علي‎: ‎فكيف أذكر؟ قال النبي صلى‎ ‎الله عليه وسلم‎: ‎أغمض عينيك واسمع مني لا إله إلا الله ثلاث ‏مرات، ثم قلها ثلاثا وأنا أسمع، ثم فعل ذلك برفع الصوت Diriwayatkan Imam Thabarani dan Imam Al Bazari dengan sanad hasan: bahwasanya Aliy meminta ‎Nabi saw, ia berkata : Wahai Rasulullaah tunjukkanlah kepadaku tarekat yang paling dekat kepada ‎Allah, ibadah yang paling mudah tetapi paling utama di sisi Allaah! Maka Nabi saw bersabda : ‎‎“langgengkanlah/kekalkanlah dzikrullah baik dengan cara pelan (sir) atau keras (jahr).” Ali berkata: ‎‎“semua orang berdzikir seperti itu, maka berilah yang khusus untukku,” Rasulullaah bersabda: ‎‎“seutama-utama yang aku dan para nabi sebelum-ku ucapkan adalah: laa ilaaha illallaah, dan andaikan ‎ditimbang bumi dan langit di sisi yang satu dan laa ilaaha illallaah di sisi Iainnya maka akan lebih berat ‎kalimat itu, dan tidak akan terjadi kimat di bumi dimana ada orang yang mengucapkan : laa ilaaha ‎illallaah, kemudian Ali bertanya: “ lantas bagaimana cara aku berdzikir?” Nabi saw bersabda: ‎‎“pejamkan kedua matamu dan dengarkan dari-ku :laa ilaaha illallaah 3 kali, kemudian ucapkanlah 3 ‎kali dan saya mendengarkannya.” Maka Ali membacanya dengan suara tinggi..‎ Banyak sekali ayat Quran dan hadits yang terkait dengan masalah tarekat-tashawuf tetapi di sini hanya ‎ayat dan hadits bai’at serta ajaran dzikir dengan kalimat laa ilaaha illallaah yang kita ungkapkan, karena ‎hal ini tetap dilaksanakan oleh para mursyid tarekat, dan betapa banyaknya penduduk negeri yang ‎masuk Islam dengan tanpa peperangan, karena mereka telah berbai’at dan mengucapkan kalimat tauhid ‎dengan ikhlas. ‎ Sumber: http://www.alsoufia.com/main/articles.aspx?selected_article_no=2882

2 thoughts on “TAREKAT- TASHAWUF ….KEUTAMAAN . PENTINGNYA DAN FAEDAHNYA.‎

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s