THARIQAH DALAM QURAN DAN SUNNAH

بسم الله الرحمن الرحيم

Thariqah atau tarekat adalah metode, jalan atau cara yang ditempuh manusia  dan jin dalam menjalani hidup berdasar suatu filosofi menurut iman dan disiplin ilmunya. Karena itu tarekat bisa benar bisa salah, tergantung dari keimanan dan disiplin ilmu yang menjadi filosofinya.  Bila iman mereka bercampur dengan kekafiran dan kezaliman maka tarekat mereka adalah sesat dan tidak akan mendapat ampunan Allah SWT sebagaimana FirmanNya :

إِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَظَلَمُوْا لَمْ يَكُنِ اللهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَ لاَ لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيْقًا (168) إِلاَّ طَرِيْقَ جَهَنَّمَ خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا وَكَانَ ذَالِكَ عَلَى اللهِ يَسِيْرًا (169)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka.  Kecuali jalan ke neraka jahannam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Surat An Nisa 168-169)

Bila iman dan disiplin ilmu  mereka tidak bercampur dengan yang zhalim dan kekafiran maka tarekat itu adalah jalan yang benar dan lurus ( tarekat mustaqim), sebagaimana tersebut dalam surat Al Ahqaaf ayat 30:

قَالُوْا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنْزِلَ مِنْ بَعْدِ مُوْسَى مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِيْ إِلَى الْحَقِّ وَإِلَى طَرِيْقٍ مُسْتَقِيْمٍ (30)

Mereka berkata: “Hai kaum kami, Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Kitab (Al Quran) yang Telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus.

Ayat diatas adalah ucapan pemimpin jin yang benar, ketika mengajak kaumnya untuk menempuh jalan/tarekat yang lurus, sehingga Allah mengabadikan ucapannya yang benar itu menjadi bagian dari Al Quran.

Tarekat yang lurus melaksanakan amalan-amalan berdasarkan dalil yang nyata dan ilmunya dapat difahami bukan suatu hal yang  janggal atau menimbulkan pertentangan, karena semua amal itu akan dipertanggung  jawabkan di hari  kiamat di hadapan Allah SWT, sebagaimana FirmanNya :

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya. ( Surat Al Isra : 36).

Tarekat yang lurus pada prinsipnya adalah menyempurnakan  ibadah dengan menjaga dan mengamalkan amalan sunnah secara intensif untuk mencapai maqam keimanan dan ketaqwaan yang lebih baik dan dekat kepada Allah SWT. Orang orang yang mampu menempuh tarekat yang lurus inilah yang disebut sebagai waliyullah, dimana Allah memberikan  jaminan perlindungan, pertolongan dan kedudukan yang mulia di sisiNya.   Diriwayatkan oleh Ibrahim bin Muhammad bin Hamzah, dari Abu Ubaidah Muhammad bin Ahmad bin Raja’, dari Ibrahim bin Abdullah, dari Muhammad bin Ishaq As Siraj, dari Muhammad bin bin Ishaq bin Karamah, dari Khalid bin Mukhallid, dari Sulaiman bin Bilal, dari Syarik bin Abdullah bin Abi Namr, dari Abu Hurairah ra dia – mengatakan: Rasulullah – saw – telah bersabda:

إن الله عز وجل قال من آذى لي وليا فقد آذنته بالحرب ، وما تقرب إلي عبدي بشيء أفضل من أداء ما افترضت عليه ، وما يزال عبدي يتقرب إلي بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه ] ص: 5  [ الذي يسمع به ، وبصره الذي يبصر به ، ويده التي يبطش بها ، ورجله التي يمشي بها ، فلئن سألني عبدي أعطيته ، ولئن استعاذني لأعذته ، وما ترددت عن شيء أنا فاعله ترددي عن نفس المؤمن يكره الموت وأكره إساءته أو مساءته .

Sesungguhnya Allah ’Azza wa Jalla berfirman: Barangsiapa memusuhi wali-waliKu maka sungguh Aku nyatakan perang kepadanya, dan tidaklah hambaku mendekatkan diri kepadaKu dengan suatu amal yang terbaik yang telah ditentukan baginya dan ia selalu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnat hingga Aku mencintainya, maka bila Aku mencintainya Akulah yang menjadi pendengaran yang untuk mendengarnya, dan penglihatan yang untuk melihat, dan tangannya yang untuk memukul, dan kakinya yang untuk berjalan, bila hambaKu itu memintaKu maka Aku memberinya, bila minta perlindungan Aku melindunginya, bila ia menolak sesuatu yang dibenci oleh dirinya Akulah yang malakukannya dan seorang mukmin itu benci kematian yang jelek atau menjelekkannya, maka Akulah yang menghindarkannya. ( Hilyatul Auliya  hal 5 Syekh Imam Al-Hafiz Abu Naeem Ahmad bin Ahmad )

Dikatakan oleh Hakim Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim, mengatakan kepada kami Hasan bin Ali bin Nasr berkata: bercerita  Abu Muhammad bin Mutsanna, mengatakan kepada kami Hasan bin Salamah bin Abi Kabsyah dari Abu Amer Al ‘Aqidi: Dikisahkan oleh Abdul Wahid dari ‘Urwah dari Aisyah yang mengatakan : Rasulullah – saw – meriwayatkan dari Tuhannya, bahwa Yang Mahakuasa berkata:

من آذى لي وليا فقد استحل محاربتي

“Barang siapa menyakiti wali-Ku halal Aku memeranginya.”

Para waliyullah itu sangat menjaga kebersihan iman dari segala hal yang merusakkannya seperti syirik, nifak, riya, takabbur, ujub, hasad/dengki dan lain lainnya. Diceritakan oleh Sulaiman bin Ahmad dari Yahya bin Ayyub dari Abi Said bin AbiMaryam dari Nafi bin Yazeed bin ‘Ayyasy bin ‘Ayyasy dari Isa Bin Abdul Rahman, dari bin Zaid bin Aslam dari ayahnya, dari Ibnu Umar ia berkata:

وجد عمر بن الخطاب معاذ بن جبل رضي الله عنه – قاعدا عند قبر رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يبكي ، فقال : ما يبكيك ؟ قال : يبكيني شيء سمعته من رسول الله – صلى الله عليه وسلم – سمعت رسول الله – صلى الله عليه وسلم – يقول : إن يسير الرياء شرك ، وإن من عادى أولياء الله فقد بارز الله بالمحاربة

Diceritakan bahwa Umar bin Al-Khattab bertemu Muadz bin Jabal – ra  – duduk di makam Rasulullah – saw – sambil menangis, ia bertanya: “Apa yang membuatmu menangis? Dia menjawab:  karena Saya pernah mendengar Rasulullah – saw – bersabda: “sesungguhnya kemunafikan itu syirik dan sungguh siapa yang memusuhi  wali-Ku,  Allah menyatakan perang kepadanya.” ( Hilyatul Auliya hal 6)

Waliyullah itu menuntut kemulyaan derajad dihadapan Allah SWT dengan berlomba lomba memperbaharui dan memperteguh iman dan taqwanya  dimana maqam itu memungkinkan mereka capai karena maqam kenabian sudah tertutup dan tidak mungkin dapat dicapai, tetapi maqam waliyullah adalah maqam yang terbuka lebar bagi semua orang beriman yang memungkinkan untuk dicapai dengan harapan memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah SWT .

Diceritakan oleh Muhammad bin Ja’far bin Ibrahim dari Ja’far bin Muhammad As Shaigh dari Malik bin Isma’il dan ‘Ashim bin ‘Aliy keduanya berkata, berkata Qais bin Ar Rabi’ dari ‘Imarah bin Qa’qa’ dari Abi Zar’ah dari ‘Amru bin Jarir dari  ‘Umar bin Khathab ra  bahwa Rasulullah saw       

إن من عباد الله لأناسا ما هم بأنبياء ولا شهداء ، يغبطهم الأنبياء والشهداء يوم القيامة بمكانهم من الله عز وجل . فقال رجل : من هم وما أعمالهم ؟ لعلنا نحبهم . قال : قوم يتحابون بروح الله عز وجل من غير أرحام بينهم ، ولا أموال يتعاطونها بينهم ، والله إن وجوههم لنور ، وإنهم لعلى منابر من نور ، لا يخافون إذا خاف الناس ، ولا يحزنون إذا حزن الناس . ثم قرأ): ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون(

“Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan  termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam  para Nabi dan syuhada.”Seorang laki-laki bertanya : “siapa mereka itu dan apa amalan mereka?”mudah-mudahan kami menyukainya. Nabi bersabda: “yaitu Kaum yang saling menyayangi karena Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan karena hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,”kemudian beliau membaca ayat : (Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada rasa takut dan mereka itu tidak bersedih hati). ( Jami’us Shaghir)  

Karakteristik tarekat ini adalah bahwa majlis mereka itu selalu dihiasi dengan dzikir dimana dzikir itu mereka amalkan baik dalam majlis secara bersama-sama maupun diluar majlis. Diriwayatkan oleh Sulaiman bin Ahmad, dari Ahmad bin Ali Al Abar, dari Al Haitsim bin Kharijah, dari Rasyidin bin Sa’ad dari Abdullah bin Al Walid Al Tajibi dari Abi Manshur managernya Al Anshar, bahwasanya ia mendengar Amru bin Jumuh mengatakan: saya mendengar Rasulullah saw bersabda:

قال الله عز وجل : إن أوليائي من عبادي ، وأحبائي من خلقي ، الذين يذكرون بذكري ، وأذكر بذكرهم

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : Sesungguhnya para-wali-Ku itu dari hamba-Ku dan kesayangan-Ku dari hamba-Ku, yaitu orang-orang yang berdzikir dengan menyebut-Ku, dan Aku berdzikir dengan menyebut mereka. (Hilyatul Auliya hal 6 )

Diriwayatkan oleh Ahmad bin Ya’qub Al Mu’dal dari Hasan bin Alwiyah dari Ismail bin Isa dari Al Hiyaj bin Bistham dari Musa’ar bin Kidam dari Bakir bin Akhnas dari Sa’id ra ia berkata : Rasulullah saw ditanya: “Siapakah wali-wali Allah itu” ? beliau bersabda: ”yaitu orang-orang yang bila kamu lihat mereka itu selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.” (Hilyatul Auliya hal 7 )

Diriwayatkan oleh Ja’far bin Muhammad bin Umar dari Abu Hashin al Qadhi dari Yahya bin Abdul Hamid dari Dawud al Athar dari Abdullah bin Utsman bin Khatsim dari Syahri bin Khusyub dari Asma binti Yazid ia berkata: Rasulullah saw telah bersabda:

ألا أخبركم بخياركم ؟ قالوا : بلى . قال : ” الذين إذا رؤوا ذكر الله عز وجل

Maukah kalian saya beritahu orang yang terbaik di antara kalian?”  mereka menjawab: “mau wahai Rasulullah” beliau bersabda: “ yaitu orang-orang yang bila kalian melihatnya, mereka itu selalu berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla.”

Wali Allah itu menghadapi fitnah kehidupan yang penuh dengan kemaksiyatan dan kemungkaran tetapi mereka dapat menjaga kemurnian imannya tanpa terkontaminasi sedikitpun, sebagaimana sabda Rasulullah yang di riwayatkan oleh Hakim Abu Ahmad Muhammad bin Ahmad bin Ibrahim dari Muhammad bin al Qasim bin Hujjaj dari Al Hakam bin Musa, dari Ismail bin ‘Iyasy dari Muslim bin Ubaidillah dari Nafi’ Dri Ibnu Umar dari Nabi saw bahwasanya beliau bersabda:

إن لله عز وجل ضنائن من عباده ، يغذيهم في رحمته ، ويحييهم في عافيته ، إذا توفاهم إلى جنته ، أولئك الذين تمر عليهم الفتن كقطع الليل المظلم وهم منها في عافية

“Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menanggung dari hamba-hambaNya dengan mencurahkan rahmatNya, dan menghidupkannya dalam keselamatan, bila mereka mati ditempatkan di surga, itulah orang-orang yang diterpa badai fitnah yang gelap bagaikan gelapnya malam tetapi mereka tidak tergoda dan selamat dalam fitnah itu.”

Wali Allah itu lebih mengutamakan perhiasan bathin dari pada perhiasan lahiriyah, sehingga kenampakan mereka tidak seperti penampilan orang orang elit, bahkan hanya dengan pakaian yang sederhana tetapi bila mereka bersumpah atas nama Allah akan terjadilah apa yang diucapkannya. Nabi saw bersabda:

كم من ضعيف متضعف ذي طمرين لو أقسم على الله لأبره (عن عقيل ، عن ابن شهاب ، عن أنس بن مالك)

“Beberapa banyaknya orang yang lemah dan sangat lemah yang di anggap hina tetapi andaikan bersumpah atas nama Allah tentu akan terjadi.”

Diantara shahabat Nabi ini adalah Al Bara bin Malik yang bertemu sekelompok orang musyrik yang merampok umat Islam. Mereka berkata kepadanya:” Hai Bara sesungguhnya  Nabi – saw – berkata: jika engkau bersumpah atas nama Tuhanmu pasti terjadi , karena itu bersumpahlah atas nama Tuhanmu.  Dia berkata.: “Aku bersumpah padaMu  ya Tuhan, untuk memberikan perbuatan mereka,   kemudian mereka pergi  untuk merampok kaum Muslimin, kemudian bertemu Bara dan  berkata: “bersumpahlah Bara kepada Tuhanmu yang  Maha Kuasa”, maka ia berkata berkata:” Aku bersumpah padamu, ya Tuhan, untuk memberikan perbuatan  mereka, bila aku bertemu Nabi  saw”– kemudian  mereka membunuh Bara dan dan ia mati sebagai syuhada.

Keberkahan Waliyullah.

Yang dimaksud keberkahan adalah pengaruh positif dan produktif dari dzikir, doa dan amal amal dari seorang yang dekat kepada Allah, sebagaimana beberapa hadits yang menjadi bukti keberkahannya. Diriwayatkan oleh Ahmad bin Abi Bakr Abu Mush’ab dari Muhammad bin Ibrahim bin Dinar dari Abiy Dzi’bin dari Sa’id Al Maqburi :

عَنْ ‏ ‏أَبِي هُرَيْرَةَ‏ ‏قَالَ قُلْتُ ‏ ‏يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَسْمَعُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا أَنْسَاهُ قَالَ ‏ ‏ابْسُطْ رِدَاءَكَ فَبَسَطْتُهُ قَالَ فَغَرَفَ بِيَدَيْهِ ثُمَّ قَالَ ضُمَّهُ فَضَمَمْتُهُ فَمَا نَسِيتُ شَيْئًا بَعْدَهُ ‏‏حَدَّثَنَا ‏ ‏إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ ‏ ‏قَالَ حَدَّثَنَا ‏ ‏ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ ‏ ‏بِهَذَا ‏ ‏أَوْ قَالَ غَرَفَ بِيَدِهِ فِيهِ ‏(رواه بن ماجه)

Dari Abi Hurairah ra; “ wahai Rasulullah sungguh saya ini telah mendengar banyak hadits darimu tetapi aku lupa semua”. Kemudian beliau bersabda: “ gelarlah Rida Mu’ ( pakaian).”  Maka aku menggelarnya, kemudian beliau memindahkan dengan tangan nya (seolah-olah mengisinya dengan sesuatu kemudian berkata, ” Ambil dan bungkuslah  keatas badan mu.” Maka aku melakukannya dan setelah itu aku tidak pernah lupa apapun. (Hr Ibnu Majah).

Keberkahan doa Ibnu Mas’ud diterangkan sebagai berikut:

عن عبد الله بن هبيرة ، عن حنش الصنعاني ، عن عبد الله بن مسعود ، أنه قرأ في أذن مبتلى فأفاق ، فقال له رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” ما قرأت في أذنه ؟ قال : قرأت ): أفحسبتم أنما خلقناكم عبثا ( حتى ختم السورة ، فقال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – : ” لو أن رجلا موقنا قرأها على جبل لزال

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Hubairah dari Hanas As Shan’ani dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya ia membacakan ayat Quran di telinga orang yang pingsan maka sadarlah berkat doanya itu. Maka Rasulullah saw betanya kepada Ibnu Mas’ud: “apa yang kamu bacakan di telinganya”? ia menjawab saya membaca ayat : afahasibtum annamaa khalaqnaakum ‘abatsan …..hingga selesainya ayat,”  Maka Rasulullah bersabda : “ andai kata ada orang  yakin yang membacakannya pada gunung, niscaya gunung itu akan bergoncang.”  (Hilyatul Auliya hal 8)

Diriwayatkan oleh Abu Bakar Ahmad bin Ja’far bin Hamdan, diriwayatkan Abdullah bin Ahmad bin Hanbal, Muhamad bin Yazid Al Kufi, diriwayatkan Muhamad bin Fadhil, diriwayatkan Shalat bin  Mathar dari Qudaamah bin Hamazhah bin Ukti Saham bin Munjab, ia berkata:

سمعت سهم بن منجاب قال : غزونا مع العلاء بن الحضرمي ، فسرنا حتى أتينا دارين والبحر بيننا وبينهم ، فقال : يا عليم يا حليم يا علي يا عظيم ، إنا عبيدك وفي سبيلك نقاتل عدوك ، اللهم فاجعل لنا إليهم سبيلا . فتقحم بنا البحر ، فخضنا ما يبلغ لبودنا الماء ، فخرجنا إليهم [ ص 8 ]

Aku mendengar Saham berkata : kami menyerang musuh dengan Al ‘Ala bin Al-Hadrami, kami mengendarai kuda sampai di batas dua daratan yang terpisah oleh  laut yang membatasi  antara kami dan mereka, kemudian Al ‘Ala berdo’a: “Wahai Yang Maha lagi Maha Penyantun, Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung  sungguh Kami hamba-Mu di Jalan-Mu yang memerangi musuh-Mu, Ya Allah   buatkanlah jalan buat kami sehingga dapat mencapai mereka.” Maka kami melintasi di atas air laut  dan kami dapat mengejar dan mengalahkan mereka. ( Hilyatul Auliya hal 8).

Dua shahabat Nabi saw ketika itu mengejar musuh dari Persia yang naik perahu, dan mereka memacu kudanya berlari diatas air di lautan tanpa tenggelam bagaikan memacu kuda di atas daratan, hingga penumpang perahu dari pegawai kerajaan Persia itu keheranan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Mereka itulah waliyullah, lantaran keikhlasan mereka itulah umat itu ditolong dan karena keihlasan mereka itu Allah menurunkan hujan.

Setup dari Kitab Hilyatul Auliya Syekh Imam Al-Hafiz Abu Naeem Ahmad bin Ahmad.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s